• Bahasa Indonesia
  • English
  • Proses Rehabilitasi Randy Berlanjut: Menemukan Sosok Ibu dalam diri Siponti

    🗓️ 10 Juni 2026 
    📁 ,
    ✒️ Fathia Rosatika

    Layaknya bayi manusia, bayi orangutan masih memerlukan kasih sayang, perlindungan, juga ajaran dari orangtua. Sayangnya, banyak bayi orangutan malang yang harus berpisah dengan induknya karena berbagai keadaan. Padahal, induk orangutan berperan penting untuk kelangsungan hidup sang bayi di alam.

    Lalu, bagaimana YIARI merawat bayi orangutan yang datang ke pusat rehabilitasi tanpa induk? Lewat strategi induk-anak asuh orangutan! Jadi, kami mencarikan induk asuh yang sesuai untuk setiap bayi orangutan yang datang ke pusat rehabilitasi. Salah satu kisah induk-anak orangutan di pusat rehabilitasi datang dari Randy dan Siponti, yuk simak selengkapnya!

    Randy, Bayi Orangutan Masih dalam Rangkaian Proses Rehabilitasi

    Masih ingat Randy? Ia adalah bayi orangutan berusia dua tahun yang diselamatkan oleh tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI dari pemeliharaan ilegal di area Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) pada 21 November 2025. Saat pemeriksaan, ditemukan patah tulang di kakinya, namun kondisi perkembangan orangutan di usia Randy masih baik, tulangnya masih bisa menyembuhkan sendiri sehingga tidak perlu intervensi dari tim medis.

    Begitu masuk ke pusat rehabilitasi, ia harus melewati masa karantina dulu selama 2 bulan. Selama masa ini, kondisi Randy baik, tulang yang patah pun sudah terlihat membaik. Kondisi medis Randy akan tetap dipantau secara rutin oleh tim medis. 

    Siponti: Dari kisah Pilu Tanpa Ibu yang kini Menjadi Seorang Ibu

    Kondisi Bayi Siponti ketika diselamatkan pada 20 Agustus 2015 (YIARI)

    Randy pun kami coba pasangkan dengan Siponti, individu orangutan kalimantan betina dewasa berusia sekitar 11 tahun. Pada 20 Agustus 2015, Siponti ditemukan diselamatkan warga dari lahan terbakar di wilayah Kecamatan Seponti Jaya, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

    Lokasi penemuannya lah yang melatarbelakangi namanya. Saat itu, nasib Siponti mirip seperti Randy, ia merupakan bayi orangutan yang terpisah dari induknya lalu dirawat oleh masyarakat. Ia pun diselamatkan oleh petugas Taman Nasional Gunung Palung Seksi Sukadana yang kemudian diserahkan ke BKSDA Wilayah 1 Ketapang. Nah, setelah 11 tahun kemudian tim medis merasa bahwa usia Siponti sudah mencapai usia dewasa dan bisa menjadi induk asuh.

    Baca juga:

    Sosialisasi Randy-Siponti Berjalan Baik

    Begitu digabungkan dalam satu kandang, Randy dan Siponti terlihat bersosialisasi dengan baik (Muffidz Ma’sum)

    Prosedur pertama pendekatan induk-asuh yang kami lakukan adalah meletakkan induk orangutan potensial di samping kandang Randy selama beberapa hari untuk saling bersosialisasi dengan batasan. Jika tidak terlihat sifat agresif dari induk dan terlihat adanya interaksi, kami pun menghilangkan batasan tersebut dan menyatukan kandang mereka.

    Kami pun menerapkan prosedur tersebut pada Randy dan Siponti, dengan mendekatkankan kandang mereka dan dilakukan observasi selama sebulan. Kemudian setelah terlihat adanya interaksi antara mereka berdua, pada 8 April 2026, tim medis mencoba menggabungkan mereka berdua dalam satu kandang. Proses observasi selama satu bulan kemudian menunjukkan hasil yang bagus! Randy termonitor sangat clingy atau menempel dengan Siponti, Siponti pun menyambut Randy baik dengan menggendongnya. 

    Berangsur-angsur, Siponti juga mulai menunjukkan sisi protektifnya dengan melindungi Randy saat ada gangguan mengarah ke arahnya. Selain itu, Siponti pun terlihat beberapa kali berbagi makanan dengan Randy, sikapnya pun tidak terlalu dominan dan tidak agresif.

    Induk Asuh Orangutan Lebih dari Sekadar Orangutan yang Menemani Bayi

    Randy terlihat nyaman berada di dekapan Siponti (Muffidz Ma’sum) 

    Di alam liar, bayi orangutan sangat bergantung pada induknya untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, fokus kami setelah karantina adalah segera menemukan induk asuh yang bisa merawat dan mengajarkan Randy untuk bertahan hidup di alam nanti.

    drh. Komara, salah satu dokter yang rutin mengobservasi perkembangan orangutan di pusat rehabilitasi menyatakan bahwa respon Siponti menjadi poin penting dalam proses rehabilitasi Randy ke depan, dengan menjadikan Siponti tempat amannya.

    “Keberhasilan induk asuh orangutan dilihat dari beberapa faktor, yaitu tidak adanya respon agresif dan dominan yang berlebihan ke anak asuh, mulai ada respon protektif terhadap anak asuh, dan induk asuh mampu memberikan contoh aktivitas kepada anak asuh seperti membuat sarang dan mencari buah,” ujarnya.

    Proses Perkembangan Tetap dalam Pengawasan Tim Medis

    Strategi induk dan anak asuh ini kami terapkan untuk meminimalisir kontak satwa dengan orangutan. Meski begitu, prosesnya tetap dilakukan dengan pengawasan dan pertimbangan dari tim medis. Dokter hewan memastikan tidak ada kasus penyakit yang terjadi dari anak ke induk, maupun sebaliknya. Perawat satwa memastikan proses sosialisasi berjalan lancar, jika ada tanda-tanda agresif, perawat akan segera memisahkan antara induk dan anak asuhnya. Perawat satwa juga rutin mengambil data sosialisasi untuk menganalisis sosialisasi yang berjalan.

    drh. Komara menyampaikan bahwa tantangan terbesar pencocokan induk dan anak asuh orangutan adalah waktu. “Belum ada standar waktu yang tepat dalam sosialisasi induk-anak asuh, dikarenakan setiap individu memiliki waktu yang berbeda-beda untuk bersosialisasi antara induk dan anak. Ke depannya, kami akan terus memantau proses sosialisasi Randy dan Siponti secara berkala”.

    Induk Anak Asuh yang Bertujuan pada Pelepasliaran

    Kisah keberhasilan Induk dan Anak Asuh di YIARI juga datang dari beberapa orangutan lain, di antaranya Karmila-Batis, juga Faini-Covita yang kini sudah hidup bebas di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Nantinya, Randy dan Siponti juga akan menyusul untuk mendapatkan kebebasan itu.

    Kalian bisa mendukung proses rehabilitasi lanjutan Randy dan Siponti melalui donasi di laman ini: https://yiari.or.id/donasi/. Bersama, kita bisa fasilitasi proses rehabilitasi terbaik untuk bayi orangutan, juga banyak orangutan lain di pusat rehabilitasi.

    Featured image: Siponti dan Randy menunjukkan ikatan yang dekat, hasil proses sosialisasi induk dan anak asuh (Muffidz Ma’sum)

    YIARI Bogor
    Jl. Curug Nangka, Kp. Sinarwangi, Kel. Sukajadi, Kec. Tamansari, Bogor, Jawa Barat 16610
    +62-856 7536 660 (Bogor)
    YIARI Ketapang
    Jl. Ketapang–Tanjungpura RT010, Dsn. Pematang Merbau, Kec. Muara Pawan, Kab. Ketapang, Kalimantan Barat 78813
    +62-856 5237 3497 (Ketapang)
    © Copyright 2026- Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia - All Rights Reserved
    magnifiercross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram