• Bahasa Indonesia
  • English
  • El Niño Datang, Kenapa Cuaca Jadi Panas dan Kering Ekstrem?

    🗓️ 10 Juli 2026 
    📁 ,
    ✒️ Admin YIARI

    Suhu udara makin terik, hujan makin jarang turun, gagal panen dan kekeringan muncul di mana-mana. Kalau kamu merasa belakangan ini cuaca terasa lebih ekstrem dari biasanya, bukan perasaanmu saja.

    Salah satu penyebabnya bisa jadi El Niño. Fenomena iklim ini mampu memicu perubahan besar secara global, mulai dari suhu ekstrem hingga gangguan serius di sektor pertanian dan perikanan.

    Lalu, apa sebenarnya El Niño, bagaimana proses terbentuknya, dan apa dampaknya bagi kehidupan kita di Indonesia? Yuk, baca sampai selesai!

    Apa itu El Niño?

    Menurut BMKG, El Niño adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah yang melampaui kondisi normal.

    Akibatnya, pertumbuhan awan lebih dominan terjadi di wilayah Samudra Pasifik tengah, sementara curah hujan di Indonesia justru menurun drastis dan risiko kekeringan pun meningkat.

    El Niño tidak datang setiap tahun. Fenomena ini umumnya muncul setiap 2 hingga 7 tahun sekali, dengan durasi yang bisa mencapai 9 hingga 12 bulan per kejadian.

    Apa Bedanya El Niño dan La Niña?

    perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Keduanya merupakan bagian dari siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang berulang setiap 2 hingga 7 tahun sekali.

    Meski satu siklus, dampak keduanya berlawanan arah.

    AspekEl NiñoLa Niña
    Suhu permukaan lautLebih hangat dari normalLebih dingin dari normal
    Curah hujan di IndonesiaBerkurangMeningkat
    Risiko utamaKekeringan, kebakaran hutanBanjir, tanah longsor
    Dampak pertanianGagal panen, kekeringanKerusakan lahan akibat banjir
    Dampak kesehatanDBD, diare, penyakit kulitDBD, diare
    Dampak ekosistem lautPemutihan terumbu karangProduktivitas laut meningkat

    Proses Terbentuknya El Niño

    El Niño terbentuk melalui serangkaian pergerakan massa air laut yang saling berinteraksi. Secara sederhana, begini urutannya:

    • Perairan hangat dari wilayah Indonesia bergerak ke timur sepanjang garis khatulistiwa, menuju pantai barat Amerika Selatan, khususnya sekitar Peru dan Bolivia
    • Bersamaan dengan itu, massa air dari perairan Amerika Tengah mengalir ke selatan menuju pesisir Peru dan Ekuador
    • Pertemuan kedua arus ini memicu peningkatan suhu permukaan laut di kawasan tersebut
    • Panas dari permukaan laut berpindah ke udara dan memicu konveksi, menciptakan daerah bertekanan rendah di sepanjang pantai barat Amerika Selatan
    • Kondisi ini melemahkan angin pasat timur yang biasanya membawa uap air dari Samudra Pasifik ke Indonesia, sehingga pembentukan awan hujan di Indonesia pun terhambat

    Dampak dari El Nino

    Terjadinya kebakaran hutan atau lahan yang diakibatkan oleh el nino/Sumber: The Asean Magazine 

    Dampak El Niño sangat luas dan menyentuh berbagai sektor kehidupan, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga lingkungan. Berikut beberapa dampak yang paling terasa:

    1. Kekeringan dan Krisis Air Bersih

    Curah hujan yang berkurang drastis membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan berkepanjangan. Pasokan air bersih pun ikut menyusut, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.

    2. Gagal Panen dan Ancaman Ketahanan Pangan

    Pola hujan yang kacau dan suhu yang meningkat menghambat pertumbuhan tanaman dan memicu gagal panen. Dalam skala lebih besar, kondisi ini bisa mengancam ketahanan pangan nasional hingga global.

    3. Kebakaran Hutan dan Lahan

    Kekeringan yang berkepanjangan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran ini merusak ekosistem sekaligus menghasilkan kabut asap yang berdampak buruk pada kesehatan masyarakat dan roda ekonomi.

    4. Gangguan pada Ekosistem Laut

    El Niño turut mengguncang ekosistem laut. Suhu air yang menghangat memicu pemutihan terumbu karang dan mengubah pola distribusi ikan, yang pada akhirnya menekan sektor perikanan dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan.

    5. Peningkatan Kasus Penyakit

    Kekeringan dan penurunan kualitas air berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Kondisi ini memicu peningkatan kasus diare, kolera, hingga penyakit kulit akibat minimnya akses air bersih.

    Di sisi lain, genangan air yang muncul saat hujan sporadis justru menjadi sarang nyamuk, sehingga kasus demam berdarah dengue (DBD) ikut meningkat selama periode El Niño.

    6. Dampak terhadap Satwa Liar dan Keanekaragaman Hayati

    El Niño juga mengancam satwa liar. Kekeringan dan kebakaran hutan menghancurkan habitat alami berbagai spesies, memaksa satwa seperti orangutan, gajah, dan harimau Sumatra untuk keluar dari habitatnya dan berkonflik dengan manusia. Hilangnya sumber pakan dan air di hutan memperparah tekanan terhadap populasi satwa yang sudah terancam punah.

    Sebagai langkah mitigasi, BRIN mengimbau petani untuk beralih ke tanaman yang lebih tahan kering seperti jagung dan kedelai, guna menjaga produktivitas pertanian di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.

    Baca juga tentang Polusi Udara: Pengertian, Dampak, dan Cara Menguranginya

    El Niño 1997–1998: Saat Indonesia Nyaris Tenggelam dalam Asap

    Kalau ingin tahu seberapa destruktif El Niño bisa menjadi, peristiwa 1997–1998 adalah jawabannya.

    El Niño memicu musim kemarau panjang dan kekeringan ekstrem yang menjadi bahan bakar bagi kebakaran hutan dan lahan terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Situasi makin parah karena praktik tebang bakar untuk membuka lahan perkebunan sudah marak terjadi jauh sebelum El Niño datang.

    Total lahan yang hangus mencapai 19,7 juta hektare, 240 orang meninggal dunia, lebih dari 100.000 orang menderita penyakit akibat asap, dan lebih dari 200.000 orang terpaksa mengungsi. Kabut asap tidak hanya menyelimuti Indonesia, polusinya menyebar hingga ke Brunei, Filipina, dan Thailand.

    Berikut dampak yang paling terasa dari peristiwa ini:

    • Kerugian ekonomi mencapai sekitar 9 miliar dolar AS, berdasarkan catatan World Resources Institute (WRI)
    • Kesehatan jangka panjang terdampak serius. Sebuah studi di jurnal PNAS menemukan bahwa anak-anak yang lahir saat kebakaran terjadi tumbuh rata-rata 3,3 sentimeter lebih pendek akibat paparan udara beracun selama kehamilan
    • Habitat satwa liar hancur. Kebakaran menghancurkan habitat orangutan dan sejumlah spesies yang sudah berstatus terancam punah, memaksa mereka masuk ke wilayah manusia dan memicu konflik
    • Lahan gambut terbakar dan sebagian terus membara di bawah tanah selama berbulan-bulan, jauh setelah api di permukaan padam

    Menghadapi El Niño: Apa yang Bisa Dilakukan?

    Kekeringan yang diakibatkan oleh el nino/Sumber: Magnific

    El Niño tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa ditekan jauh sebelum puncaknya tiba. Kuncinya ada di kesiapsiagaan, baik di tingkat kebijakan maupun di tingkat individu.

    Hal yang bisa dilakukan pemerintah dan lembaga terkait:

    • Pemantauan ENSO secara berkala melalui laman resmi BMKG yang memperbarui status El Niño dan La Niña secara rutin, termasuk prediksi beberapa bulan ke depan
    • Sistem peringatan dini kekeringan dan kebakaran, agar daerah rawan bisa bersiap lebih awal sebelum kondisi memburuk
    • Pengelolaan lahan gambut, termasuk menjaga tinggi muka air gambut agar tidak kering dan mudah terbakar
    • Perlindungan habitat satwa liar, terutama di Sumatra dan Kalimantan, agar satwa tidak terpaksa keluar dari habitatnya saat sumber air dan pakan menipis

    Sementara itu, masyarakat bisa mencegahnya dengan:

    • Hemat air sejak dini, terutama saat BMKG mulai mengeluarkan prediksi El Niño untuk musim mendatang
    • Diversifikasi tanaman, beralih ke varietas yang lebih tahan kering seperti jagung dan kedelai, sesuai anjuran BRIN
    • Tidak membakar lahan sebagai cara pembukaan lahan, karena satu titik api di musim kemarau ekstrem bisa menjalar jauh melampaui kendali
    • Ikuti informasi cuaca dari BMKG, baik lewat situs maupun aplikasi, untuk mengetahui kondisi ENSO terkini dan proyeksi musim kemarau di wilayah masing-masing

    Sebelum Langit Kembali Gelap oleh Asap

    El Niño memang fenomena alam yang tidak bisa kita hentikan. Tapi seberapa parah dampaknya sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari.

    Kebakaran 1997 bukan murni bencana alam. Di baliknya ada lahan yang sengaja dibakar, hutan yang sudah lama digerus, dan gambut yang dibiarkan mengering. El Niño hanya menyulut apa yang sudah lama disiapkan untuk terbakar.

    Hal-hal sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan, hemat air saat kemarau mulai panjang, dan aktif mengikuti informasi cuaca dari BMKG terdengar kecil, tapi dampaknya kolektif. Satwa liar tidak punya pilihan saat habitatnya terbakar.

    Petani tidak punya cadangan saat panennya gagal. Kita yang masih punya pilihan itu.

    Featured image: Terjadinya kekeringan di suatu area persawahan/Sumber: The Asean Magazine 

    🏷️ Tags : , ,  
    YIARI Bogor
    Jl. Curug Nangka, Kp. Sinarwangi, Kel. Sukajadi, Kec. Tamansari, Bogor, Jawa Barat 16610
    +62-856 7536 660 (Bogor)
    YIARI Ketapang
    Jl. Ketapang–Tanjungpura RT010, Dsn. Pematang Merbau, Kec. Muara Pawan, Kab. Ketapang, Kalimantan Barat 78813
    +62-856 5237 3497 (Ketapang)
    © Copyright 2026- Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia - All Rights Reserved
    magnifiercross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram