
Suhu udara makin terik, hujan makin jarang turun, gagal panen dan kekeringan muncul di mana-mana. Kalau kamu merasa belakangan ini cuaca terasa lebih ekstrem dari biasanya, bukan perasaanmu saja.
Salah satu penyebabnya bisa jadi El Niño. Fenomena iklim ini mampu memicu perubahan besar secara global, mulai dari suhu ekstrem hingga gangguan serius di sektor pertanian dan perikanan.
Lalu, apa sebenarnya El Niño, bagaimana proses terbentuknya, dan apa dampaknya bagi kehidupan kita di Indonesia? Yuk, baca sampai selesai!
Menurut BMKG, El Niño adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah yang melampaui kondisi normal.
Akibatnya, pertumbuhan awan lebih dominan terjadi di wilayah Samudra Pasifik tengah, sementara curah hujan di Indonesia justru menurun drastis dan risiko kekeringan pun meningkat.
El Niño tidak datang setiap tahun. Fenomena ini umumnya muncul setiap 2 hingga 7 tahun sekali, dengan durasi yang bisa mencapai 9 hingga 12 bulan per kejadian.
perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Keduanya merupakan bagian dari siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang berulang setiap 2 hingga 7 tahun sekali.
Meski satu siklus, dampak keduanya berlawanan arah.
| Aspek | El Niño | La Niña |
| Suhu permukaan laut | Lebih hangat dari normal | Lebih dingin dari normal |
| Curah hujan di Indonesia | Berkurang | Meningkat |
| Risiko utama | Kekeringan, kebakaran hutan | Banjir, tanah longsor |
| Dampak pertanian | Gagal panen, kekeringan | Kerusakan lahan akibat banjir |
| Dampak kesehatan | DBD, diare, penyakit kulit | DBD, diare |
| Dampak ekosistem laut | Pemutihan terumbu karang | Produktivitas laut meningkat |
El Niño terbentuk melalui serangkaian pergerakan massa air laut yang saling berinteraksi. Secara sederhana, begini urutannya:

Dampak El Niño sangat luas dan menyentuh berbagai sektor kehidupan, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga lingkungan. Berikut beberapa dampak yang paling terasa:
Curah hujan yang berkurang drastis membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan berkepanjangan. Pasokan air bersih pun ikut menyusut, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.
Pola hujan yang kacau dan suhu yang meningkat menghambat pertumbuhan tanaman dan memicu gagal panen. Dalam skala lebih besar, kondisi ini bisa mengancam ketahanan pangan nasional hingga global.
Kekeringan yang berkepanjangan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran ini merusak ekosistem sekaligus menghasilkan kabut asap yang berdampak buruk pada kesehatan masyarakat dan roda ekonomi.
El Niño turut mengguncang ekosistem laut. Suhu air yang menghangat memicu pemutihan terumbu karang dan mengubah pola distribusi ikan, yang pada akhirnya menekan sektor perikanan dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan.
Kekeringan dan penurunan kualitas air berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Kondisi ini memicu peningkatan kasus diare, kolera, hingga penyakit kulit akibat minimnya akses air bersih.
Di sisi lain, genangan air yang muncul saat hujan sporadis justru menjadi sarang nyamuk, sehingga kasus demam berdarah dengue (DBD) ikut meningkat selama periode El Niño.
El Niño juga mengancam satwa liar. Kekeringan dan kebakaran hutan menghancurkan habitat alami berbagai spesies, memaksa satwa seperti orangutan, gajah, dan harimau Sumatra untuk keluar dari habitatnya dan berkonflik dengan manusia. Hilangnya sumber pakan dan air di hutan memperparah tekanan terhadap populasi satwa yang sudah terancam punah.
Sebagai langkah mitigasi, BRIN mengimbau petani untuk beralih ke tanaman yang lebih tahan kering seperti jagung dan kedelai, guna menjaga produktivitas pertanian di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.
Baca juga tentang Polusi Udara: Pengertian, Dampak, dan Cara Menguranginya
Kalau ingin tahu seberapa destruktif El Niño bisa menjadi, peristiwa 1997–1998 adalah jawabannya.
El Niño memicu musim kemarau panjang dan kekeringan ekstrem yang menjadi bahan bakar bagi kebakaran hutan dan lahan terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Situasi makin parah karena praktik tebang bakar untuk membuka lahan perkebunan sudah marak terjadi jauh sebelum El Niño datang.
Total lahan yang hangus mencapai 19,7 juta hektare, 240 orang meninggal dunia, lebih dari 100.000 orang menderita penyakit akibat asap, dan lebih dari 200.000 orang terpaksa mengungsi. Kabut asap tidak hanya menyelimuti Indonesia, polusinya menyebar hingga ke Brunei, Filipina, dan Thailand.
Berikut dampak yang paling terasa dari peristiwa ini:

El Niño tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa ditekan jauh sebelum puncaknya tiba. Kuncinya ada di kesiapsiagaan, baik di tingkat kebijakan maupun di tingkat individu.
Hal yang bisa dilakukan pemerintah dan lembaga terkait:
Sementara itu, masyarakat bisa mencegahnya dengan:
El Niño memang fenomena alam yang tidak bisa kita hentikan. Tapi seberapa parah dampaknya sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari.
Kebakaran 1997 bukan murni bencana alam. Di baliknya ada lahan yang sengaja dibakar, hutan yang sudah lama digerus, dan gambut yang dibiarkan mengering. El Niño hanya menyulut apa yang sudah lama disiapkan untuk terbakar.
Hal-hal sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan, hemat air saat kemarau mulai panjang, dan aktif mengikuti informasi cuaca dari BMKG terdengar kecil, tapi dampaknya kolektif. Satwa liar tidak punya pilihan saat habitatnya terbakar.
Petani tidak punya cadangan saat panennya gagal. Kita yang masih punya pilihan itu.
Featured image: Terjadinya kekeringan di suatu area persawahan/Sumber: The Asean Magazine
