
Pernah melihat capung terbang pelan di atas permukaan sungai?
Biasanya kita cuma menganggapnya bagian dari pemandangan alam. Datang sebentar, lalu pergi. Tidak terlalu dipikirkan.
Padahal, kehadiran capung sebenarnya bisa “bercerita” banyak hal.
Dari capung, kita bisa tahu apakah air di sungai itu masih bersih, apakah ekosistemnya masih seimbang, bahkan apakah lingkungan di sekitarnya masih sehat atau tidak.
Hal inilah yang ingin dipahami dalam penelitian berjudul “Inventory of Dragonfly Types (Odonata) Around The Batutegi Protected Forest River” oleh Widayanti dan tim.
Di Hutan Lindung Batutegi, Lampung, para peneliti mencoba membaca “cerita” itu, bukan lewat alat canggih, tapi lewat capung-capung yang beterbangan di tepi sungai.
Untuk memahami “cerita” dari capung-capung ini, para peneliti melakukan pengamatan langsung di kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung, tepatnya di sekitar aliran sungai yang menjadi habitat utama capung.
Penelitian ini dilakukan pada Januari 2024 di empat titik yang berbeda, mulai dari aliran sungai besar (bagian hulu dan hilir), sungai kecil, hingga area rawa dengan vegetasi semak. Tujuannya sederhana: melihat jenis capung apa saja yang hidup di masing-masing kondisi lingkungan tersebut.
Dibandingkan menggunakan alat yang rumit, pengamatan dilakukan dengan cara yang cukup sederhana. Para peneliti berjalan menyusuri jalur sepanjang sungai, mengamati capung yang terlihat, lalu menangkap dan mendokumentasikannya untuk diidentifikasi.
Pengamatan dilakukan dua kali dalam sehari:
Waktu ini dipilih karena capung biasanya aktif terbang pada kondisi tersebut. Hasilnya, ditemukan keanekaragaman capung yang cukup tinggi di kawasan ini.

Dari hasil pengamatan tersebut, peneliti berhasil mengidentifikasi 21 spesies capung yang tersebar di empat lokasi berbeda di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan Batutegi menyimpan keanekaragaman capung yang cukup tinggi.
Spesies-spesies ini berasal dari dua kelompok besar dalam ordo Odonata, yaitu Anisoptera (capung biasa) dan Zygoptera (capung jarum).
Beberapa poin penting dari temuan ini:
Dominasi Libellulidae bukan hal yang mengejutkan.
Kelompok ini memang dikenal memiliki jumlah anggota yang besar dan mampu hidup di berbagai tipe habitat. Selain itu, capung dari famili ini juga merupakan predator yang aktif, sehingga lebih sering terlihat dibandingkan jenis capung lain yang lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan.
Namun, yang menarik bukan hanya jumlahnya, melainkan bagaimana capung tersebar di tiap lokasi. Tidak semua area memiliki jumlah dan jenis capung yang sama, yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di sekitar sungai sangat berpengaruh terhadap keberadaan mereka.

Setelah melihat hasilnya, muncul pertanyaan berikutnya: kenapa capung bisa begitu beragam di Batutegi?
Ternyata, jawabannya bukan cuma satu faktor. Ada beberapa kondisi lingkungan yang secara bersama-sama membuat kawasan ini cocok untuk capung:
Kalau dilihat sekilas, semua lokasi penelitian sama-sama berada di sekitar sungai. Tapi hasilnya berbeda: ada lokasi yang capungnya banyak, ada juga yang jauh lebih sedikit.
Dari sini, terlihat bahwa tidak semua habitat perairan punya kondisi yang sama di mata capung.
Beberapa temuan penting dari penelitian ini:
Bagi capung, habitat yang ideal bukan hanya soal ada air, tetapi juga soal akses cahaya matahari, struktur vegetasi, dan ruang untuk beraktivitas. Cahaya matahari penting karena membantu capung menghangatkan tubuh dan menguatkan otot sayap sebelum terbang.
Dari hasil penelitian ini, kita tidak hanya mendapatkan daftar jenis capung yang hidup di Batutegi. Lebih dari itu, kita juga bisa membaca kondisi lingkungan di kawasan tersebut.
Beberapa hal penting yang bisa kita pahami:
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem sungai di Hutan Lindung Batutegi masih dalam kondisi yang cukup baik. Namun, kondisi ini tentu perlu dijaga agar tidak menurun di masa depan.
Penelitian ini juga membuka peluang untuk langkah selanjutnya, yaitu menjadikan capung sebagai bioindikator dalam pemantauan lingkungan. Dengan memantau keanekaragaman capung secara berkala, kita bisa lebih cepat mendeteksi perubahan kondisi ekosistem tanpa harus selalu bergantung pada alat yang kompleks.
Capung mungkin tidak pernah jadi perhatian utama. Tapi dari mereka, kita bisa melihat bagaimana sebuah ekosistem bekerja, atau mulai berubah.
Penelitian di Batutegi menunjukkan satu hal sederhana: kondisi alam tidak selalu terlihat dari hal besar, tapi justru dari hal-hal kecil yang sering kita lewatkan.
Dan mungkin, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, cukup dengan mulai memperhatikan.
Inventory of Dragonfly Types (Odonata) Around The Batutegi Protected Forest River. Indonesian Journal of Biotechnology and Biodiversity. [Buka]
Featured image: Neurobasis chinensis (Tim Biodiv|YIARI)

