
Hai, sobat #KonservasYIARI!
Bekantan atau Nasalis larvatus adalah primata unik dengan hidung menonjol dan wajah mencolok, menjadikannya daya tarik bagi banyak orang.
Sebagai hewan endemik di Pulau Kalimantan, sangat disayangkan habitat alami dan populasi bekantan semakin terancam oleh berbagai faktor.
Bekantan sendiri memiliki banyak nama, seperti long-nosed monkey, proboscis monkey, kera bekantan, dan bangkatan. Penduduk lokal pun menyebutnya dengan berbagai nama seperti kera belanda, pika, bahara bentangan, raseng, dan kahau.
Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat kehidupan bekantan, serta langkah-langkah konservasi yang dapat diambil untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di alam liar. Yuk, simak bersama!

Bekantan atau proboscis monkey dikenal dengan beberapa ciri khas yang membedakannya dari primata lainnya. Berikut beberapa ciri bekantan:
Inilah deskripsi mendalam tentang perilaku bekantan:
Bekantan punya struktur sosial yang unik. Mereka biasanya hidup dalam kelompok besar, terdiri dari satu jantan dominan, beberapa betina dewasa, dan anak-anak mereka.
Kelompok-kelompok ini berjiwa sosial tinggi dan sering terlihat beristirahat atau mencari makan bersama. Jantan dewasa sering kali sangat protektif terhadap kelompoknya dan akan menunjukkan perilaku agresif untuk menangkis jantan lain atau predator.
Primata ini aktif di siang hari (diurnal). Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di pohon. Makanan yang sering dicari adalah daun muda, buah-buahan, dan biji-bijian, meskipun mereka juga makan bunga dan beberapa serangga.
Perilaku mencari makan ini melibatkan banyak berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain, yang menunjukkan kelincahan mereka dalam bergerak di antara cabang-cabang pohon.
Bekantan menggunakan berbagai suara dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Vokalisasi mereka termasuk mendesis, mendengus, dan suara keras lainnya yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kelompok atau memperingatkan adanya bahaya.
Mereka juga menggunakan ekspresi wajah dan postur tubuh untuk mengekspresikan suasana hati atau status sosial.
Perilaku kawin bekantan melibatkan jantan yang menampilkan diri di depan betina dengan mengembangkan tubuh dan menunjukkan perilaku mendominasi. Betina biasanya memilih jantan berdasarkan kekuatan dan statusnya dalam kelompok.
Bekantan betina melahirkan satu anak setelah masa kehamilan sekitar 160-200 hari.
Sebagai hewan yang hidup di dekat perairan seperti hutan mangrove dan rawa, bekantan adalah perenang handal. Mereka sering terlihat berenang antar pulau atau menghindari predator dengan melompat ke air dan berenang ke lokasi yang aman.
Bekantan merupakan spesies yang endemik di Pulau Kalimantan, meliputi wilayah Indonesia, Malaysia (Sabah dan Sarawak di Borneo Utara), dan Brunei Darussalam. Khususnya, mereka tersebar di sepanjang sungai dan di daerah pesisir pulau ini, mengadaptasi diri dengan lingkungan hutan rawa dan mangrove.
Bekantan secara eksklusif ditemukan di Pulau Kalimantan. Mereka mendiami daerah-daerah yang kaya akan sumber air, di mana hal ini penting untuk kebutuhan hidup mereka. Sebagai spesies yang sangat tergantung pada ekosistem berbasis air, bekantan memilih habitat yang dekat dengan sungai, rawa, atau hutan mangrove.
Habitat utama bekantan meliputi:
Bekantan menghadapi beberapa ancaman serius yang berpotensi mengurangi jumlah populasi mereka secara drastis:
Kegiatan penebangan hutan untuk pertanian, pembangunan infrastruktur, dan pertambangan menjadi penyebab utama hilangnya habitat alami bekantan. Hutan mangrove dan rawa yang merupakan habitat esensial bagi mereka semakin berkurang, menyulitkan bekantan untuk menemukan makanan dan tempat berteduh.
Meski bekantan dilindungi oleh undang-undang, perburuan untuk daging atau perdagangan sebagai hewan peliharaan masih berlangsung. Ini sering terjadi karena kurangnya pengawasan dan penegakan hukum yang efektif.
Polusi air dan tanah, terutama dari aktivitas industri dan pertanian, juga memengaruhi kesehatan ekosistem yang mendukung kehidupan bekantan. Pencemaran ini bisa merusak sumber makanan dan kualitas habitat mereka secara keseluruhan.
Untuk mengatasi ancaman ini, berbagai program konservasi telah dilaksanakan:
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian bekantan dan habitatnya bisa dicapai melalui pendidikan dan campaign kesadaran lingkungan.
Pentingnya keterlibatan pemerintah dalam proses ini tidak bisa diabaikan, karena dukungan mereka dapat memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya konservasi. Selain itu, memperkuat penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal seperti penebangan hutan dan perburuan liar menjadi langkah penting lain untuk menjaga populasi bekantan.
Undang-undang seperti UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, menyertakan pasal-pasal penting di dalamnya, termasuk:
Namun, meskipun undang-undang tersebut sudah ada, masih terdapat tantangan dalam penerapannya, yang memerlukan kerja sama antara pemerintah, organisasi, dan masyarakat.
Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, kita dapat mengharapkan masa depan yang lebih baik untuk bekantan, primata endemik dari Pulau Kalimantan. Bekantan, sebagai bagian dari warisan alam Indonesia, patut dijaga bersama.
Melalui kolaborasi yang efektif dan sinergis, upaya pelestarian dan perlindungan ini bisa dilaksanakan secara strategis. Setiap langkah kecil yang diambil memiliki potensi untuk memberikan dampak besar pada kelangsungan hidup bekantan di alam liar.
Yuk, mari bersama mengambil bagian dari upaya konservasi bekantan!
Nana Nadiya Mahardika
Referensi:
Kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) merupakan satwa langka yang tersebar di Semenanjung Malaka yang meliputi Malaysia dan Thailand, juga Indonesia. Pada 14 Agustus 2023, di Blok Inti KPH Batutegi, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Tercatat bahwa kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh KPH Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia telah menangkap satwa langka ini. Hal ini menambah jumlah temuan satwa eksotis ini menjadi total 3 kali selama pemasangan kamera jebak di tahun 2022-2023. Sebelumnya tim gabungan menemukan spesies kambing-hutan ini pada 14 Juli 2022 dan 4 November 2022.




