
Musim hujan yang lebih panjang, curah hujan yang makin deras, dan suhu udara yang terasa lebih sejuk dari biasanya. Itulah gambaran nyata saat La Niña tiba di Indonesia.
La Niña menjadi fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mendingin secara signifikan.
Kondisi ini menggeser pola cuaca global dan membuat wilayah seperti Indonesia mengalami curah hujan jauh di atas rata-rata, yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan gangguan di sektor pertanian, perikanan, hingga transportasi.
Apa sebenarnya yang menyebabkan La Niña, dan seberapa besar dampaknya bagi kehidupan sehari-hari? Artikel ini akan mengupasnya secara lengkap!
La Niña adalah fenomena iklim global yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dari biasanya.
Perubahan suhu ini terhubung langsung dengan sirkulasi Walker, yaitu pergerakan atmosfer dari timur ke barat di sepanjang garis ekuator.
Prosesnya dimulai dari angin pasat yang menguat di atas Samudra Pasifik. Angin ini mendorong air hangat ke barat, sekaligus menarik air dingin dari kedalaman laut ke permukaan melalui proses yang disebut upwelling.
Hasilnya, suhu laut di Pasifik bagian timur mendingin dan perubahan ini merambat ke pola angin, tekanan udara, hingga cuaca di seluruh dunia.
La Niña biasanya mencapai puncaknya antara Desember hingga Februari. Di masa itu, Asia Tenggara termasuk Indonesia kebanjiran hujan, sementara Amerika Selatan bagian barat justru mengalami kekeringan.
El Niño dan La Niña bisa diibaratkan dua sisi dari koin yang sama.
Menurut BMKG, El Niño terjadi saat angin pasat melemah dan suhu laut Pasifik memanas, sehingga awan dan hujan bergeser menjauh dari Indonesia. Sebaliknya, saat La Niña, angin pasat menguat, suhu laut mendingin, dan curah hujan di Indonesia meningkat.
Keduanya adalah bagian dari siklus iklim yang dikenal sebagai ENSO (El Niño-Southern Oscillation), yang sudah dipantau para ilmuwan iklim selama puluhan tahun.

Agar kamu lebih memahami fenomena La Niña, berikut ini beberapa ciri-ciri dari fenomena ini:
Tanda paling jelas La Niña adalah suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang turun di bawah normal. Ini dipicu oleh penguatan angin pasat yang mendorong air dingin dari kedalaman naik ke permukaan. Dari sinilah perubahan cuaca global bermula.
Saat La Niña aktif, hujan bisa turun bahkan di tengah musim kemarau, kondisi yang sering disebut kemarau basah. Bagi petani, ini bisa jadi kabar baik karena tanah tetap lembap. Di sisi lain, risiko banjir dan tanah longsor ikut meningkat.
La Niña tidak datang setiap tahun. Fenomena ini muncul setiap dua sampai tujuh tahun sekali dan biasanya berlangsung antara sembilan hingga dua belas bulan. Dalam beberapa kasus, dampaknya bisa terasa lebih lama dari itu.
Baca juga tentang Polusi Udara: Pengertian, Dampak, dan Cara Menguranginya
Apa yang sebenarnya memicu La Niña? Fenomena ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari serangkaian proses laut dan atmosfer yang saling memperkuat satu sama lain. Berikut penyebab-penyebabnya:

Angin pasat adalah angin yang bertiup dari timur ke barat di sekitar ekuator. Saat La Niña terjadi, angin pasat menguat dan semakin kuat mendorong air hangat ke wilayah barat Samudra Pasifik hingga mendekati Asia dan Australia.
Akibatnya, air hangat menumpuk di bagian barat, sementara bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya.
Saat air hangat terdorong ke barat, ruang yang ditinggalkan di bagian timur Pasifik diisi oleh air dingin dari kedalaman laut yang naik ke permukaan. Proses inilah yang disebut upwelling, dan selama La Niña, proses ini terjadi lebih intens dari kondisi normal.
Hasilnya, suhu permukaan laut di kawasan tersebut turun lebih jauh dari biasanya.
Pendinginan suhu laut di Pasifik bagian tengah dan timur tidak berdiri sendiri. Perubahan ini langsung berinteraksi dengan atmosfer di atasnya, mengubah pola tekanan udara dan sirkulasi angin global.
Di wilayah seperti Asia Tenggara dan Australia, kelembapan atmosfer meningkat sehingga curah hujan ikut naik. Sementara itu, Amerika Selatan bagian barat justru mengalami kondisi lebih kering.
Termoklin adalah lapisan batas antara air laut yang hangat di bagian atas dan air dingin di bagian bawah.
Saat La Niña, termoklin di Pasifik timur naik ke permukaan, membuat air dingin lebih mudah muncul ke atas dan memperkuat proses upwelling. Ini yang membuat La Niña bisa bertahan cukup lama.
Gelombang Rossby adalah gelombang besar di atmosfer dan laut yang bergerak dari timur ke barat, berperan mendistribusikan ulang panas secara global.
Selama La Niña, gelombang ini membantu menyebarkan efek pendinginan suhu laut ke wilayah yang lebih luas, sehingga dampak La Niña terasa di berbagai penjuru dunia.
La Niña bukan cuma urusan hujan deras. Dampaknya terasa dari sawah petani di Jawa sampai pantai nelayan di Peru. Berikut gambaran lengkapnya.
Menurut BMKG, La Niña meningkatkan curah hujan di Indonesia antara 20 hingga 40 persen dibanding kondisi normal, bahkan di beberapa wilayah bisa lebih dari 40 persen. Dampaknya pun berbeda-beda tergantung musim:
Satu catatan penting: saat puncak musim hujan (DJF), La Niña tidak serta-merta menambah curah hujan di Indonesia bagian barat dan tengah karena ada interaksi dengan sistem monsun yang juga memengaruhi distribusi hujan.
Lonjakan curah hujan ini membawa konsekuensi serius. BMKG mencatat La Niña berpotensi memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga banjir lahar hujan di sekitar gunung berapi yang sedang atau baru saja erupsi.
Efek La Niña tidak berhenti di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, fenomena ini mengubah pola cuaca dengan cara yang berbeda-beda:

La Niña mengubah cuaca, dan cuaca yang berubah mengubah segalanya. Mulai dari sawah yang terendam, jalur laut yang berbahaya, sampai ancaman penyakit yang diam-diam menyebar. Berikut potensi bencana yang perlu diwaspadai:
BMKG secara resmi memperingatkan bahwa La Niña berpotensi memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga banjir lahar hujan di sekitar gunung api yang sedang aktif.
Di dataran rendah dan perkotaan, masalahnya klasik: volume air hujan jauh melampaui kapasitas drainase. Di daerah perbukitan, tanah yang terus-menerus jenuh air menjadi jauh lebih rentan longsor.
Hujan berlebih membuat tanah terlalu basah sehingga akar tanaman sulit tumbuh. Genangan yang berlangsung lama bisa membunuh tanaman sebelum sempat dipanen. Kondisi lembap yang ekstrem juga menjadi pemicu:
Ujungnya, hasil panen turun dan pendapatan petani ikut terdampak.
Gelombang tinggi dan badai yang lebih sering terjadi selama La Niña berdampak langsung pada nelayan dan jalur pelayaran:
Banjir dan tanah longsor selama La Niña kerap merusak jalan raya, jembatan, dan jalur kereta api.
Di perkotaan, ini mengganggu mobilitas warga sehari-hari. Di pedesaan, dampaknya lebih berat karena akses yang terisolasi langsung memengaruhi distribusi bahan pangan dan layanan darurat.
Banjir bukan hanya soal rumah terendam. Lingkungan yang tergenang menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab demam berdarah, sekaligus meningkatkan risiko penularan penyakit lain.
Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai saat curah hujan tinggi antara lain leptospirosis, diare, tifus, dan ISPA, terutama di wilayah yang sanitasinya sudah terganggu akibat banjir.
La Niña tidak hanya berdampak pada manusia. Hujan deras yang berkepanjangan dan tanah longsor dapat merusak habitat alami di wilayah pesisir maupun hutan tropis.
Fenomena La Niña yang makin ekstrem memengaruhi siklus hidup flora dan fauna endemik, dan banyak spesies terpaksa bermigrasi mencari habitat yang lebih sesuai. Dalam jangka panjang, tekanan ini bisa memperburuk kondisi keanekaragaman hayati Indonesia yang sudah menghadapi berbagai ancaman.
La Niña memang tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa dikurangi. Kuncinya ada pada kesiapsiagaan sejak sebelum bencana datang. Berikut langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan:
Langkah paling sederhana sekaligus paling penting. BMKG menyediakan prediksi curah hujan 10 harian, bulanan, hingga enam bulan ke depan yang bisa diakses secara gratis.
Selain itu, aplikasi InaRISK dari BNPB bisa digunakan untuk mengecek tingkat risiko bencana di wilayah masing-masing. Informasi ini sangat berguna untuk mengambil keputusan lebih awal, sebelum situasi memburuk.
Mitigasi banjir dan longsor dimulai dari hal-hal yang bisa dilakukan sendiri di sekitar rumah:
3. Siapkan Tas Siaga Bencana
Jika tinggal di wilayah rawan banjir atau longsor, siapkan tas darurat yang berisi:
4. Untuk Petani: Sesuaikan Pola Tanam
La Niña bukan hanya ancaman bagi petani, tapi juga bisa jadi peluang kalau dikelola dengan tepat. BMKG melalui program Sekolah Lapang Iklim (SLI) membantu petani memahami data iklim agar bisa menyesuaikan waktu tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi lembap.
Di sisi lain, surplus air selama La Niña bisa dimanfaatkan untuk panen hujan, perluasan area tanam padi, dan budidaya ikan air tawar di telaga yang muncul saat musim basah.
5. Untuk Nelayan: Utamakan Keselamatan di Laut
Gelombang tinggi selama La Niña membuat aktivitas melaut jauh lebih berbahaya. BMKG juga menyediakan program Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) yang terbukti membantu nelayan membaca informasi cuaca maritim secara rutin dan menghindari kecelakaan di laut.
Saat cuaca buruk, menunda keberangkatan jauh lebih bijak daripada memaksakan diri.
La Niña bukan sekadar fenomena cuaca yang datang lalu pergi. Di balik derasnya hujan dan meluapnya sungai, ada pesan yang lebih besar: alam sedang merespons perubahan yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia sendiri.
Banjir yang makin sering, habitat satwa yang makin sempit, ekosistem pesisir yang makin rapuh. Semuanya terhubung. Dan semakin kita mengabaikan sinyal-sinyal ini, semakin besar pula harga yang harus dibayar, baik oleh manusia maupun oleh satwa liar yang berbagi bumi yang sama dengan kita.
Kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Bisa dari memahami fenomena seperti La Niña, lalu menyebarkan kesadaran itu ke orang-orang di sekitar kamu. Karena perubahan nyata selalu bermula dari pemahaman yang benar.
Featured image: Ilustrasi laut saat terjadi la nina/Sumber: Magnific
