
Pernah dengar tentang badak jawa (Rhinoceros sondaicus)? Satwa langka ini bisa dibilang bintang eksklusif Indonesia, karena saat ini hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.
Menariknya, badak jawa adalah hewan darat terbesar kedua di Asia setelah gajah Asia. Dengan tubuh gagah dan bercula satu, ia jadi ikon penting kekayaan alam Nusantara.
Namun bukan hanya itu saja, badak jawa juga punya banyak fakta menarik yang bikin kita makin kagum. Yuk, kenalan lebih dekat dengan satwa luar biasa yang sedang diperjuangkan kelestariannya ini!
Sebagai salah satu satwa paling langka di dunia, badak jawa menyimpan banyak hal unik yang jarang diketahui. Yuk, cek satu per satu!
Badak jawa kini termasuk salah satu spesies paling langka di dunia, dengan populasi yang ditaksir hanya sekitar 80 ekor di alam liar.
Pada tahun 2024, jumlahnya bertambah setelah empat anak badak lahir di Taman Nasional Ujung Kulon, satu-satunya habitat badak jawa yang masih tersisa di dunia.
Dahulu, badak jawa hidup di wilayah yang sangat luas, mulai dari India Timur, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, hingga pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Badak jawa memiliki tubuh yang sangat besar. Tingginya bisa mencapai 1,5–1,7 meter, dengan panjang tubuh sekitar 2–4 meter. Berat individu dewasa berkisar antara 900 hingga 2.300 kilogram. Saat lahir, anak badak jawa sudah memiliki berat badan sekitar 40–64 kilogram.
Meski bertubuh bongsor, satwa ini justru sangat jarang terlihat karena memiliki sifat soliter. Badak jawa lebih suka hidup menyendiri di hutan tropis yang lebat. Salah satu kebiasaannya adalah berguling di kubangan lumpur. Aktivitas ini berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit sekaligus melindunginya dari gigitan serangga, parasit, maupun infeksi kulit.
Salah satu ciri paling khas badak jawa adalah hanya memiliki satu cula kecil. Hal ini membedakannya dari badak Afrika yang bercula dua. Cula badak jawa terbuat dari keratin, sama seperti kuku manusia, dan memiliki karakteristik sebagai berikut:
Badak jawa dikenal sebagai satwa herbivora, tetapi tidak sembarangan dalam memilih makanan.
Berbeda dengan spesies badak lain, mereka tidak memakan rumput. Sebaliknya, badak jawa lebih menyukai tumbuhan lunak seperti pohon kleinhovia (Kleinhovia variegata) dan buah ara (Ficus variegata). Meski begitu, mereka juga mampu mengonsumsi bambu dan tanaman berduri.
Secara umum, makanan badak jawa terdiri atas:
Satwa ini mengonsumsi lebih dari 100 jenis tumbuhan berbeda, menjadikannya salah satu pemakan tumbuhan paling adaptif di antara semua badak.
Kebiasaan makannya juga cukup selektif. Badak jawa cenderung mencari pakan di area terbuka tanpa naungan, misalnya di semak belukar, celah bekas pohon tumbang, atau daerah dengan vegetasi rendah.
Lokasi tersebut biasanya menyediakan tumbuhan dengan kualitas gizi lebih tinggi dibandingkan daerah hutan yang terlalu rapat.
Baca juga: Mengenal Yaki, si Monyet Hitam Endemik Sulawesi

Meskipun tubuhnya besar, badak jawa ternyata cukup lincah. Mereka merupakan perenang dan pemanjat yang andal, sehingga mampu menjelajahi rawa, hutan tropis, maupun semak belukar.
Saat mencari makan, badak jantan memanfaatkan cula kecilnya untuk menarik tanaman atau membuka jalan di vegetasi rapat.
Dari sisi indera, penglihatan badak jawa tergolong lemah. Untuk mengatasinya, mereka lebih mengandalkan indera penciuman dan pendengaran yang tajam dalam mendeteksi bahaya maupun interaksi sosial.
Dalam hal komunikasi, badak jawa menggunakan kombinasi sinyal kimia dan suara:
Badak jawa memiliki sistem kawin poliginandri atau promiskuitas. Artinya, jantan maupun betina dapat memiliki lebih dari satu pasangan.
Proses pendekatan sebelum kawin terbilang unik dan cukup agresif. Jantan dan betina sering terlibat dalam pertarungan, saling mengejar hingga jarak lebih dari 200 meter, bahkan merobek vegetasi bersama. Selama interaksi ini, keduanya juga mengeluarkan raungan keras.
Untuk menarik perhatian betina, jantan biasanya mengeluarkan suara siulan. Menariknya, jantan dominan mampu menghasilkan siulan paling keras, sehingga lebih berpeluang menarik pasangan.
Badak jawa dapat kawin sepanjang tahun, tetapi tingkat reproduksinya sangat lambat. Betina hanya melahirkan satu anak dalam setiap kelahiran, dengan interval 4–5 tahun. Faktor ini dipengaruhi oleh masa kehamilan yang panjang, sekitar 16 bulan, serta adanya interaksi intens antara induk dan anak yang membutuhkan waktu lama.
Kematangan seksual badak jawa juga berbeda antara jantan dan betina. Betina mulai matang pada usia 5–7 tahun, sedangkan jantan baru siap kawin setelah berusia sekitar 10 tahun. Siklus reproduksi yang lambat inilah yang membuat pertumbuhan populasi badak jawa berjalan sangat lambat meskipun berada di kawasan lindung.

Badak jawa dijuluki sebagai pahlawan ekosistem hutan karena:
Baca juga: Bekantan: Upaya Pelestarian Ikon Fauna Kalimantan yang Terancam
Badak jawa termasuk dalam kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah menurut daftar Red List dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). Mereka juga tercatat dalam Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti perdagangan internasional spesies ini dilarang keras.
Di Indonesia, perlindungan hukum terhadap badak jawa ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah No. P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
Meski begitu, ancaman terhadap kelangsungan hidupnya masih sangat besar, di antaranya:
Badak jawa bukan hanya satwa langka, tapi juga “penjaga hutan” yang diam-diam punya peran besar untuk kehidupan kita. Mulai dari menjaga keseimbangan hutan, bantu sebar biji tumbuhan, sampai bikin ekosistem tetap sehat, semua itu mereka lakukan tanpa kita sadari.
Sayangnya, jumlah mereka sekarang sangat sedikit. Kalau kita lengah, bisa-bisa satwa megah ini hanya tinggal cerita. Nah, di sinilah peran kita penting. Dukungan terhadap upaya konservasi, sekecil apa pun, bisa jadi langkah besar buat masa depan badak jawa.
Jadi, yuk sama-sama peduli. Dengan melindungi badak jawa, kita juga lagi melindungi hutan, udara bersih, dan kehidupan yang ada di dalamnya, termasuk kita sendiri!


