
Setiap hari, dapur kita menghasilkan sesuatu yang kita buang begitu saja: kulit bawang, ampas kopi, sisa nasi, batang sayuran. Begitu pula kebun, ladang, dan kandang ternak. Tapi di balik tumpukan yang tampak tak berguna itu, tersimpan potensi energi yang selama ini kita abaikan.
Di tengah ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil yang semakin mahal dan semakin terbatas, solusinya ternyata bisa ditemukan di tempat paling dekat: dari bahan organik yang ada di sekitar kita.
Dalam artikel ini, kamu akan menemukan apa itu bioenergi, dari mana sumbernya, dan bagaimana teknologi ini bisa diterapkan, mulai dari skala industri sampai dapur rumah tangga!
Bioenergi adalah energi terbarukan yang dihasilkan dari biomassa, yaitu bahan organik yang berasal dari makhluk hidup atau sisa aktivitasnya.
Dalam konteks ilmiah, biomassa mencakup material organik berusia relatif muda seperti tanaman, sisa panen, kotoran ternak, dan limbah organik rumah tangga yang belum mengalami proses fosilisasi jutaan tahun seperti batu bara atau minyak bumi.
Dengan kata lain, bioenergi merupakan cara mengubah sampah organik menjadi energi yang bisa dipakai untuk memasak, menggerakkan mesin, atau bahkan menghasilkan listrik. Bedanya dengan bahan bakar fosil, biomassa bisa diperbaharui selama ada aktivitas biologis yang terus berjalan di bumi.
Bioenergi bukan satu produk tunggal. Ia hadir dalam berbagai bentuk tergantung bahan baku dan cara pengolahannya.
Berikut jenis-jenisnya yang paling umum dan paling relevan untuk Indonesia:
Biofuel adalah bahan bakar cair yang dibuat dari tanaman atau limbah organik. Di Indonesia, ada dua jenis yang sudah benar-benar berjalan:
Bioetanol lahir dari fermentasi tanaman tinggi gula dan pati seperti tebu, jagung, atau singkong. Hasilnya adalah alkohol yang dicampur dengan bensin. Kedengarannya sederhana, tapi pengembangannya di Indonesia masih tertatih.
Produksi bioetanol kita saat ini baru sekitar 40.000 KL per tahun, sementara target pemerintah di 2030 adalah 1,2 juta KL. Jarak antara angka sekarang dan target itu sangat jauh, tapi di situlah justru peluangnya terbuka.
Biodiesel dibuat dari minyak nabati seperti kelapa sawit, jarak, atau bahkan minyak goreng bekas. Kalau kamu pernah isi solar di SPBU, tanpa sadar kamu sebenarnya sudah pakai biodiesel.
Program B35 yang berlaku sejak Februari 2023 berarti setiap liter solar yang kamu beli sudah mengandung 35% biodiesel. Soal dampaknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa beralih dari solar murni ke biodiesel sawit dapat memangkas emisi gas rumah kaca sekitar 50–62%.
Biogas dihasilkan saat bakteri mengurai bahan organik tanpa oksigen, proses yang disebut fermentasi anaerobik. Bahan bakunya bisa kotoran sapi, limbah pertanian, sisa makanan, sampai limbah cair dari pabrik tahu dan tempe.
Hasil yang keluar dari proses itu adalah gas metana, dan gas metana bisa dipakai langsung untuk memasak, menyalakan lampu, atau menggerakkan generator. Di banyak desa di Indonesia, instalasi biogas sederhana sudah membantu keluarga peternak mandiri dari gas elpiji.
Kayu bakar, serbuk gergaji, sekam padi, ampas tebu, semuanya masuk kategori biomassa padat. Ini sebenarnya bentuk bioenergi paling tua yang sudah dipakai manusia ribuan tahun, hanya sekarang dikembangkan lebih serius.
Di skala industri, biomassa padat diolah jadi pelet kayu atau briket yang lebih efisien dan mudah disimpan. Kementerian ESDM bahkan menargetkan cofiring biomassa di 113 unit PLTU PLN di 52 lokasi, dengan tingkat pencampuran 5–15% biomassa ke dalam batu bara.
Langkah kecil yang kalau berhasil diterapkan penuh, bisa berdampak signifikan pada emisi sektor energi.
Bioheat adalah panas yang dihasilkan dari pembakaran biomassa seperti kayu, pelet, atau limbah organik. Penggunaannya luas: mulai dari pemanas ruangan di negara beriklim dingin, pemanas air, sampai sumber panas untuk proses industri.
Di Indonesia, contoh yang paling dekat adalah pabrik kelapa sawit yang memanfaatkan cangkang dan serabut sawit sebagai bahan bakar boilernya sendiri. Limbah dari proses produksi langsung diputar balik jadi energi untuk proses yang sama.
Gas metana dari tumpukan sampah di TPA biasanya terlepas begitu saja ke udara, padahal metana adalah gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya dari karbon dioksida. Teknologi landfill gas (LFG) menangkap gas itu sebelum sempat terlepas, lalu mengolahnya jadi energi.
Contoh nyatanya ada di TPA Benowo, Surabaya, di mana gas metana dari tumpukan sampah kota sudah berhasil diubah menjadi listrik. Ini membuktikan TPA yang selama ini dianggap masalah, bisa diubah jadi bagian dari solusi energi.
Baca juga: Bioteknologi: Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Penerapannya

Bioenergi bukan sekadar solusi lingkungan. Manfaatnya menyentuh banyak sisi sekaligus, dari isu emisi karbon, ketahanan energi nasional, sampai lapangan kerja di pedesaan.
Berikut alasan mengapa bioenergi layak masuk ke radar kita:
Saat biomassa dibakar, karbon yang dilepaskan ke udara adalah karbon yang sama yang sebelumnya diserap tanaman selama tumbuh. Ini berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon yang tersimpan selama jutaan tahun. Siklus karbon ini membuat bioenergi secara keseluruhan jauh lebih netral dibanding minyak bumi atau batu bara.
Dampaknya nyata. Dari program biodiesel B35 saja, pada 2023 tercatat penghematan devisa negara sebesar Rp120,54 triliun sekaligus pengurangan emisi gas rumah kaca yang signifikan.
Indonesia masih mengimpor minyak dalam jumlah besar setiap tahunnya. Bioenergi yang bisa diproduksi dari bahan baku lokal, mulai dari kelapa sawit, tebu, kotoran ternak, sampai sampah organik, punya potensi besar untuk memotong ketergantungan itu.
Energi yang diproduksi sendiri artinya devisa yang tidak perlu keluar, dan ketahanan energi yang tidak bergantung pada harga minyak dunia.
Industri bioenergi bergerak dari hulu, yaitu pertanian dan perkebunan, sampai ke hilir berupa pengolahan dan distribusi. Program biodiesel B35 saja sudah menyerap lebih dari 11.000 tenaga kerja off-farm dan 1,5 juta pekerja on-farm di Indonesia.
Selain itu, petani yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil panen untuk dikonsumsi atau dijual sebagai komoditas, kini punya opsi baru: menjual limbah pertanian mereka sebagai bahan baku energi. Sisa panen yang selama ini dibakar atau dibiarkan membusuk punya nilai ekonomi baru.
Energi surya butuh matahari. Energi angin butuh hembusan angin. Bioenergi butuh apa? Cukup biomassa yang memang terus dihasilkan selama ada aktivitas pertanian, peternakan, dan rumah tangga.
Ini menjadikan bioenergi pilihan yang sangat relevan untuk daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik nasional. Selama ada limbah organik, ada potensi energi yang bisa dipakai.

Alam di sekitar kita menyimpan berbagai bahan yang bisa diubah jadi energi bersih. Yang menarik, banyak dari bahan-bahan itu adalah sesuatu yang selama ini kita anggap sampah.
Inilah bahan-bahan penghasil bioenergi yang paling umum ditemukan di Indonesia:
Jagung, tebu, singkong, jarak pagar, dan kelapa sawit adalah beberapa contoh tanaman yang memang bisa dipanen sebagai bahan baku energi.
Dari tanaman-tanaman ini, bioetanol bisa dihasilkan lewat fermentasi gula dan patinya, sementara biodiesel diekstrak dari kandungan minyaknya. Indonesia punya keunggulan besar di sini karena hampir semua tanaman ini sudah ditanam dalam skala masif di berbagai wilayah.
Jerami, tongkol jagung, batang tebu, sekam padi, semua itu biasanya dibakar di ladang atau dibiarkan membusuk begitu saja.
Padahal bahan-bahan ini bisa dibakar secara terkontrol untuk menghasilkan panas dan listrik, atau diproses lewat gasifikasi menjadi gas bahan bakar. Potensinya besar mengingat Indonesia adalah salah satu produsen pertanian terbesar di dunia.
Kotoran sapi, ayam, dan kambing adalah bahan baku biogas yang sangat efektif. Lewat proses fermentasi anaerobik, bakteri mengurai kotoran ternak dalam wadah tertutup dan menghasilkan gas metana yang bisa langsung dipakai untuk memasak atau menyalakan lampu.
Di peternakan skala rumahan sekalipun, instalasi biogas sederhana sudah terbukti membantu keluarga mandiri dari gas elpiji.
Sisa sayuran, kulit buah, nasi basi, atau makanan yang sudah kedaluwarsa bisa diolah menjadi biogas melalui proses yang sama dengan kotoran ternak.
Skala produksinya memang lebih kecil, tapi jika dilakukan secara komunal di tingkat RT atau RW, potensinya cukup signifikan, sekaligus membantu mengurangi volume sampah organik yang berakhir di TPA.
Ampas kelapa sawit, limbah penggilingan padi, dan serbuk gergaji adalah contoh limbah industri yang sudah dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa di pembangkit listrik skala besar.
Pabrik kelapa sawit, misalnya, sudah lama membakar cangkang dan serabutnya sendiri untuk menggerakkan turbin uap di fasilitas produksinya, menjadikan mereka sebagian besar mandiri dari jaringan listrik PLN.
Baca juga: Mengenal Energi Surya: Pengertian, Manfaat, dan Penerapannya di Indonesia

Perkembangan bioenergi di Indonesia bukan sekadar wacana. Ada perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi nyata, mengubah limbah dan bahan organik menjadi energi yang bisa dipakai:
Berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur, Enero adalah salah satu pionir bioetanol berbahan baku molases atau tetes tebu di Indonesia. Perusahaan ini merupakan anak usaha PTPN Group dan sudah beroperasi sejak 2010 sebagai hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang melalui NEDO.
Enero memiliki kapasitas produksi 100 KL per hari, dan bioetanol yang dihasilkannya sudah digunakan sebagai campuran Pertamax Green yang dijual Pertamina.
Menariknya, limbah dari proses produksi bioetanol itu tidak dibuang percuma: gas metana yang terbentuk dimanfaatkan kembali untuk menghemat energi operasional pabrik sendiri.
Kalau Enero fokus di bioetanol tebu, Kencana Energy membuktikan bahwa biomassa bisa menjadi sumber listrik yang stabil dan bisa diandalkan.
Perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ini mengoperasikan beragam pembangkit energi terbarukan, mulai dari tenaga air di Sumatera dan Sulawesi hingga pembangkit listrik tenaga biomassa.
Pembangkit biomassanya, PLTBm Tempilang, berlokasi di Kepulauan Bangka Belitung dan dioperasikan melalui anak usahanya PT Biomassa Energi Jaya.
Sebagai bagian dari Wilmar Group, perusahaan yang berbasis di Dumai, Riau ini adalah salah satu produsen biodiesel terbesar di Indonesia.
PT Wilmar Bioenergi Indonesia memiliki kapasitas produksi mencapai 1,6 juta KL per tahun Bisnis, menjadikannya salah satu kilang biodiesel terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan ini menjadi salah satu pemasok utama untuk program mandatori B35 pemerintah yang sudah berjalan sejak Februari 2023.
Selama ini kita terbiasa melihat sisa makanan, kotoran ternak, dan limbah pertanian sebagai masalah yang perlu dibuang secepatnya. Bioenergi membalik cara pandang itu: semua yang organik, semua yang "terbuang", menyimpan energi yang menunggu untuk dilepaskan.
Indonesia punya bahan baku yang melimpah. Kita perlu kesadaran untuk tidak menyia-nyiakannya.
Langkah paling sederhana pun sudah berarti. Memilah sampah organik di rumah, menyetor minyak jelantah ke pengepul, atau bergabung dengan program biogas komunal di lingkungan tempat tinggal, semua itu adalah kontribusi nyata, bukan sekadar simbolis.
Perubahan energi tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang ia dimulai dari dapur.
Featured image: Gambar ilustrasi pengisian mobil menggunakan bioenergi: masa depan yang lebih hijau / Sumber: Aprobi

