
Di tengah hamparan hijau Hutan Lindung Batu Tegi, suara tawa, diskusi, dan semangat belajar terdengar dari Stasiun Riset Way Rilau, Lampung. Selama dua hari, para pemuda dan calon edukator konservasi berkumpul dalam Pelatihan Kedua Pionir Alam—sebuah ruang belajar yang tidak hanya membahas konservasi, tetapi juga membentuk keberanian untuk menjadi suara bagi alam.
Pionir Alam merupakan kelompok calon edukator konservasi yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama pemuda-pemudi Air Naningan, Tanggamus, Lampung. Program ini hadir sebagai upaya membangun generasi muda yang mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat di sekitar mereka.
Pelatihan kedua yang dilaksanakan pada 24 – 25 April 2026 di Stasiun Riset Way Rilau, Hutan Lindung Batu Tegi ini menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat kapasitas peserta sebagai edukator konservasi. Berbeda dari pelatihan sebelumnya, kegiatan kali ini lebih berfokus pada penguatan kemampuan fasilitasi, manajemen kelas, komunikasi publik, pemahaman mengenai dasar-dasar konservasi, hingga refleksi diri sebagai seorang edukator.
Belajar Konservasi Langsung dari Alam
Perjalanan menuju Stasiun Riset Way Rilau menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta. Mereka harus menempuh perjalanan menggunakan perahu menuju kawasan hutan lindung yang masih asri. Suasana alam yang tenang menjadi ruang belajar yang berbeda dari ruang kelas pada umumnya.

Kegiatan dibuka dengan sesi pengenalan mengenai YIARI dan peran edukator konservasi. Dalam materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa edukator bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga agen perubahan yang mampu membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan satwa liar.
“Edukator adalah jembatan antara manusia, satwa liar, dan masa depan Lampung,” ujar Denny Setiawan selaku Koordinator Edukasi Outreach YIARI, menjadi salah satu pesan yang menguatkan makna program ini.
Peserta juga diperkenalkan pada berbagai peran edukator konservasi, mulai dari menyusun materi pembelajaran, memfasilitasi diskusi, hingga mendampingi masyarakat dalam aksi konservasi nyata. Edukator konservasi diharapkan mampu menghadirkan pendekatan yang relevan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Kelas yang Interaktif dan Partisipatif
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah materi manajemen kelas yang dibawakan oleh Eko Prasetyo, Founder Komunitas Jendela Lampung. Dalam sesi ini, peserta belajar bagaimana menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan efektif.

Berbagai metode interaktif diperkenalkan, mulai dari ice breaking, diskusi kelompok, penggunaan media visual, hingga strategi menjaga perhatian peserta saat kegiatan edukasi berlangsung. Peserta juga belajar memahami dinamika perilaku anak dan cara membangun komunikasi yang efektif di dalam kelas.
“Metode ini membuat peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga belajar langsung melalui praktik, permainan, diskusi, dan aktivitas lapangan. Dengan cara yang menyenangkan, peserta lebih mudah memahami materi, lebih aktif terlibat, dan pengalaman belajarnya lebih membekas,” ujar Eko.
Tidak hanya mendengarkan materi, para peserta juga diminta merancang prototype kegiatan edukasi secara berkelompok. Mereka menyusun tujuan pembelajaran, menentukan metode, hingga mempresentasikan rancangan edukasi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Refleksi Diri sebagai Edukator
Di balik materi teknis yang diberikan, pelatihan ini juga menghadirkan ruang refleksi bagi peserta. Dalam sesi refleksi dan penguatan nilai, peserta diajak mengenal diri mereka lebih dalam sebagai calon edukator konservasi.

Melalui pendekatan analisis SWOT, peserta memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang mereka miliki.
Menurut Nicky salah satu peserta pelatihan, sesi ini membuatnya lebih memahami kemampuan diri dan hal yang perlu diperbaiki. Ia juga menilai sesi diskusi yang terbuka membantu peserta memahami kondisi nyata sekaligus memberi banyak pembelajaran baru.
Sesi ini menjadi momen yang personal sekaligus penting, karena menjadi edukator bukan hanya tentang kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga tentang memahami nilai, komitmen, dan tujuan diri sendiri.
Menanam Harapan untuk Masa Depan
Pada hari kedua, peserta melakukan penanaman pohon sebagai simbol komitmen terhadap lingkungan. Di tengah kawasan Hutan Lindung Batu Tegi, kegiatan sederhana ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Pelatihan Pionir Alam bukan sekadar kegiatan belajar singkat. Program ini dirancang sebagai proses panjang untuk membentuk edukator yang mampu tumbuh bersama masyarakat dan terus menyuarakan konservasi di lingkungan mereka. YIARI juga menyiapkan pendampingan berkelanjutan melalui pelatihan lanjutan, hingga implementasi program edukasi di sekolah dan komunitas.
Inggit selaku Staf Edukasi Penyadartahuan Program Batutegi YIARI menambahkan, “Kegiatan pelatihan ini menjadi awal terbentuknya edukator-edukator konservasi yang aktif, inspiratif, dan konsisten dalam menyebarkan nilai-nilai kepedulian lingkungan kepada masyarakat luas. Ke depannya, saya berharap para edukator konservasi dapat terus berkembang, berkolaborasi, serta mampu mengajak lebih banyak orang untuk ikut terlibat dalam aksi konservasi nyata di wilayah Hutan Lindung Batutegi, Kecamatan Air Naningan, maupun kegiatan lainnya.”
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin nyata, hadirnya para Pionir Alam menjadi harapan baru. Dari hutan Batu Tegi, lahir suara-suara muda yang membawa semangat menjaga alam—bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.
Featured image: Denny Setiawan | YIARI

