
Kita sering mikir kalau tubuh yang sehat itu berarti benar-benar “bersih” dari penyakit. Tidak ada virus, tidak ada bakteri, apalagi parasit.
Tapi ternyata, di alam liar, ceritanya bisa berbeda.
Pada orangutan di Kalimantan, malaria bukan selalu jadi musuh yang harus dihindari mati-matian. Justru, dalam banyak kasus, mereka bisa membawa parasit malaria di dalam tubuhnya… tanpa terlihat sakit sama sekali.
Hal yang lebih mengejutkan, orangutan yang terlalu lama “bebas” dari malaria justru bisa jadi lebih rentan saat terinfeksi lagi.
Temuan ini datang dari penelitian berjudul “Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus)” yang dipimpin oleh Sanchez dan tim peneliti lintas institusi, termasuk YIARI, Freie Universität Berlin, dan University of Oxford.
Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sesuatu yang kita anggap berbahaya malah bisa berperan penting untuk menjaga mereka tetap sehat?
Penelitian selama hampir enam tahun ini mencoba menjawabnya, dan hasilnya mungkin akan mengubah cara kita melihat penyakit di alam liar.

Kalau dengar kata malaria, kebanyakan dari kita langsung membayangkan demam tinggi, tubuh lemas, dan kondisi yang cukup serius.
Tapi pada orangutan, ceritanya tidak selalu seperti itu.
Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan banyak orangutan membawa parasit malaria Plasmodium pitheci di dalam darah mereka, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali. Mereka tetap aktif, makan normal, bahkan berperilaku seperti biasa.
Kondisi ini disebut sebagai infeksi tanpa gejala (asimtomatik).
Artinya, tubuh mereka tidak benar-benar “mengusir” parasit tersebut, tetapi justru hidup berdampingan tanpa menimbulkan gangguan yang berarti.
Di sini, ada perbedaan penting yang perlu dipahami:
Pada orangutan, dua hal ini tidak selalu berjalan bersamaan.
Dari sini, muncul satu pertanyaan menarik: kalau infeksi ringan saja sudah cukup untuk “melatih” tubuh, lalu apa yang terjadi pada orangutan yang jarang atau tidak pernah terpapar sama sekali?
Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti tidak hanya mengamati beberapa kasus lalu menarik kesimpulan. Mereka mengikuti kondisi orangutan dalam jangka panjang, dari Januari 2017 sampai Desember 2022, di pusat rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat.
Selama periode itu, tim peneliti mengumpulkan total 2.140 sampel darah dari 135 orangutan, dengan rata-rata lama pengamatan sekitar 4,3 tahun per individu. Dari jumlah itu, 1.351 sampel dari 132 orangutan digunakan untuk menganalisis pola infeksi tanpa gejala menurut kelompok umur.
Sampel darah ini diperiksa dengan dua cara utama:
Dengan pendekatan ini, peneliti tidak hanya bisa melihat siapa yang terinfeksi, tetapi juga membandingkan:
Jadi, penelitian ini bukan sekadar mencatat “ada malaria atau tidak”, tetapi benar-benar mencoba membaca pola hubungan antara usia, riwayat paparan, dan risiko sakit pada orangutan.
Dari hasil pengamatan selama bertahun-tahun, peneliti menemukan pola yang cukup mengejutkan.
Kalau biasanya kita mengira yang sering terinfeksi pasti lebih rentan, pada orangutan justru tidak demikian.
Polanya seperti ini:
| Kelompok Usia | Infeksi Tanpa Gejala | Kepadatan Parasit | Risiko Sakit Parah |
| Infant (bayi) | 34,7% | Tertinggi | 0 kasus |
| Juvenile (anak) | Tertinggi (45,9%) | Tinggi | Rendah |
| Sub-adult | 26,5% | Terendah | Sedang |
| Adult (dewasa) | 23,1% | Lebih rendah | Tertinggi |
Dari tabel ini, terlihat satu pola yang cukup kontras:
Artinya, frekuensi infeksi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keparahan penyakit.
Menariknya lagi, pada kelompok bayi bahkan tidak ditemukan kasus malaria klinis selama periode penelitian. Padahal, mereka tetap bisa membawa parasit dalam jumlah cukup tinggi di dalam darahnya.
Temuan ini memberi petunjuk bahwa sejak usia dini, tubuh orangutan kemungkinan sudah mulai beradaptasi terhadap keberadaan parasit malaria. Bukan dengan menghilangkannya sepenuhnya, tetapi dengan mengendalikannya agar tidak berkembang menjadi penyakit yang serius.
Sebaliknya, pada orangutan yang lebih tua, paparan yang lebih jarang justru bisa membuat tubuh mereka kurang siap ketika infeksi benar-benar terjadi.
Dari seluruh hasil penelitian, ada satu pola yang paling menonjol: sistem imun orangutan tidak bersifat tetap, ia perlu terus “dilatih”.
Peneliti melihat kondisi kesehatan orangutan sangat dipengaruhi oleh riwayat paparan mereka terhadap malaria, terutama dalam satu tahun terakhir.
Secara sederhana, polanya seperti ini:
Dengan kata lain, tubuh orangutan tampaknya tidak selalu menghilangkan parasit sepenuhnya, tetapi belajar mengendalikannya. Konsep ini sering disebut sebagai “use it or lose it,” kalau tidak digunakan, kemampuan itu bisa perlahan hilang.
Peneliti menemukan bahwa orangutan yang tidak terpapar malaria selama sekitar satu tahun memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami sakit parah saat terinfeksi kembali.
Dalam konteks ini, tubuh yang terlalu lama bebas dari parasit justru kehilangan kesiapan untuk menghadapi infeksi berikutnya. Ketika parasit kembali masuk, respons imun bisa menjadi kurang efektif, sehingga penyakit berkembang lebih serius.
Temuan ini juga menjelaskan kenapa sebagian kasus malaria klinis justru terjadi pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat infeksi dalam waktu lama.
Lalu, kalau kondisi ini terjadi pada orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi, apa dampaknya ketika mereka kembali ke alam liar?

Di pusat rehabilitasi, kondisi lingkungan sering kali lebih terkontrol. Dalam beberapa kasus, orangutan bisa saja lebih jarang terpapar parasit dibandingkan saat mereka hidup di hutan alami.
Sekilas, ini terlihat seperti hal yang baik. Tapi dari hasil penelitian ini, justru muncul sisi lain yang perlu diperhatikan. Saat mereka kembali ke alam liar (di mana paparan nyamuk dan parasit jauh lebih tinggi), risiko sakit parah bisa meningkat.
Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan:
Selain itu, perubahan lingkungan seperti deforestasi dan fragmentasi hutan juga bisa ikut memengaruhi pola penyebaran malaria. Jika ekosistem berubah, interaksi antara orangutan, nyamuk, dan parasit juga ikut berubah, dan ini bisa berdampak pada kesehatan populasi mereka dalam jangka panjang.
Penelitian ini memberi satu pelajaran sederhana, tapi cukup mengubah cara pandang kita.
Dalam kadar tertentu, keberadaan parasit justru membantu sistem imun mereka tetap “siap siaga”. Tanpa paparan itu, tubuh bisa kehilangan kemampuan untuk merespons saat infeksi benar-benar datang.
Di alam liar, kesehatan bukan tentang menghilangkan semua risiko, tetapi tentang menjaga keseimbangan.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa tubuh (baik manusia maupun satwa liar) sebenarnya terus belajar dari lingkungannya. Dan terkadang, hal-hal yang terlihat berbahaya justru punya peran penting dalam menjaga kita tetap bertahan.
Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus). Jurnal Parasitology. [Buka]
Featured image:Orangutan kalimantan bernama Giet di atas pohon yang berada pada Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)


