
Di hutan tropis Asia Tenggara, ada satu primata kecil yang aktif saat malam hari: kukang. Gerakannya lambat, ekspresinya terlihat hati-hati, sehingga banyak orang menganggap kukang sebagai satwa yang pemalu.
Tapi benarkah semua kukang seperti itu?
Sebuah penelitian mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara sederhana: meletakkan cermin di depan kukang dan melihat bagaimana mereka bereaksi. Dari situ, para peneliti menemukan bahwa tidak semua kukang bersikap sama. Ada yang berani mendekat, ada yang ragu-ragu, dan ada juga yang memilih menjauh.
Temuan ini berasal dari penelitian berjudul “Are Slow Lorises Bold or Shy? Uncovering Personality Traits with a Mirror as a Novel-Object Test (NOT)” yang dipublikasikan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (2025).
Menariknya, studi ini melibatkan peneliti IPB University bersama Kyoto University, Jepang, serta dilaksanakan di YIARI, Bogor. So, what did they actually find? Apakah kukang ternyata lebih pemalu dari yang kita kira atau justru sebaliknya?

Untuk mengetahui apakah kukang cenderung berani atau pemalu, para peneliti menggunakan metode yang disebut Novel Object Test (NOT). Metode ini cukup sederhana: hewan diperlihatkan sebuah benda yang belum pernah mereka temui sebelumnya, lalu peneliti mengamati bagaimana mereka bereaksi.
Dalam penelitian ini, objek yang digunakan adalah sebuah cermin. Bagi kukang, cermin merupakan benda asing yang memunculkan bayangan menyerupai individu lain. Karena itu, pantulan di cermin sering memicu berbagai respons perilaku.
Ketika cermin diletakkan di kandang, reaksi kukang pun berbeda-beda. Beberapa individu langsung mendekat dengan rasa penasaran, sementara yang lain memilih mengamati dari jarak tertentu.
Secara umum, respons yang terlihat antara lain:
Menariknya, perilaku seperti menyentuh, menyerang, atau mencari di belakang cermin menunjukkan bahwa kukang kemungkinan mengira bayangan tersebut sebagai kukang lain, bukan dirinya sendiri. Karena itu, dalam penelitian ini cermin berfungsi sebagai stimulus baru yang memancing berbagai respons perilaku kukang.
Dari pola reaksi inilah para peneliti mulai membaca kecenderungan kepribadian setiap individu, apakah mereka lebih berani (bold) atau lebih hati-hati (shy) ketika menghadapi hal baru di lingkungannya.

Penelitian ini dilakukan pada 11 kukang dewasa yang sedang menjalani proses rehabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor. Individu yang diamati terdiri dari dua spesies kukang yang umum ditemukan di Indonesia, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang).
Untuk memastikan perilaku yang diamati benar-benar alami, proses eksperimen dilakukan secara bertahap. Secara sederhana, langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:
Melalui rangkaian pengamatan ini, para peneliti kemudian mencatat dan menganalisis berbagai respons perilaku kukang untuk melihat kecenderungan kepribadian masing-masing individu, mulai dari yang sangat berani hingga yang lebih berhati-hati saat menghadapi hal baru.
Ketika cermin diperkenalkan sebagai objek baru, Rizky, R.F. dan tim menemukan bahwa setiap kukang menunjukkan respons yang berbeda. Dari 11 individu yang diamati, sebagian besar justru menunjukkan kecenderungan perilaku yang cukup berani.
Sebagian besar kukang dalam penelitian ini termasuk kategori bold atau bahkan extremely bold. Mereka terlihat aktif mendekati dan mengeksplorasi cermin, misalnya dengan mengendus, menyentuh, atau menyelidiki objek tersebut.
Namun tidak semua kukang bereaksi dengan cara yang sama. Ada juga individu yang menunjukkan respons lebih hati-hati dan cenderung menjaga jarak dari objek baru.
Jika dilihat dari skor kepribadian yang dihitung peneliti, kukang sumatera jantan berkode CM3 tercatat sebagai individu paling berani dalam penelitian ini. Sebaliknya, kukang sumatera betina berkode CF2 menunjukkan kecenderungan paling pemalu karena lebih sering menghindari cermin.
Temuan ini menunjukkan bahwa kukang tidak semuanya memiliki karakter yang sama. Bahkan dalam satu spesies yang sama, setiap individu dapat memiliki tingkat keberanian dan kehati-hatian yang berbeda ketika menghadapi sesuatu yang baru di lingkungannya.

Selain melihat perbedaan antar individu, para peneliti juga membandingkan respons kukang berdasarkan jenis kelamin dan spesies.
Hasilnya menunjukkan pola yang cukup jelas. Jika dilihat dari jenis kelamin, kukang jantan cenderung menunjukkan perilaku yang lebih berani dibandingkan kukang betina.
Perbedaan ini tidak langsung terlihat pada awal eksperimen. Pada sesi pertama, skor kepribadian jantan dan betina masih relatif mirip. Namun pada sesi kedua dan ketiga, perbedaan mulai tampak lebih jelas. Kukang jantan menunjukkan skor keberanian yang lebih tinggi dibandingkan betina.
Secara umum, kukang jantan lebih sering:
Sementara itu, kukang betina lebih sering menunjukkan perilaku yang lebih hati-hati, seperti:
Sebaliknya, ketika dibandingkan berdasarkan spesies, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang), para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam skor kepribadian keduanya.
Dengan kata lain, dalam penelitian ini faktor yang paling terlihat memengaruhi kecenderungan perilaku kukang adalah jenis kelamin, bukan spesiesnya.
Menariknya, respons kukang terhadap cermin tidak selalu sama di setiap sesi pengujian. Ketika eksperimen diulang beberapa kali, beberapa individu menunjukkan perubahan skor kepribadian.
Ada kukang yang semakin berani setelah beberapa kali melihat cermin. Individu yang awalnya hanya mengamati dari jauh mulai berani mendekat dan mengeksplorasi objek tersebut. Namun ada juga yang justru menjadi lebih pasif.
Beberapa pola perubahan yang diamati peneliti antara lain:
Perubahan ini menunjukkan bahwa respons kukang terhadap objek baru juga dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Setelah beberapa kali melihat cermin, sebagian individu menjadi lebih berani karena mulai terbiasa. Sebaliknya, ada juga yang menjadi lebih pasif karena sudah mengenali objek tersebut dan menganggapnya tidak terlalu menarik atau tidak berbahaya.
Artinya, perilaku kukang tidak selalu tetap. Pengalaman dan proses belajar juga dapat memengaruhi bagaimana mereka merespons lingkungan di sekitarnya.

Memahami kepribadian kukang bukan sekadar menjawab rasa penasaran ilmiah. Informasi ini juga sangat penting dalam proses rehabilitasi dan pelepasliaran satwa liar.
Setiap kukang yang berada di pusat rehabilitasi memiliki latar belakang yang berbeda. Banyak dari mereka merupakan korban perdagangan satwa liar, sehingga pengalaman hidup sebelumnya dapat memengaruhi perilaku mereka.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberanian dan kehati-hatian merupakan bagian dari spektrum kepribadian satwa, yang masing-masing memiliki kelebihan dan risiko di alam liar.
Misalnya:
Dengan memahami karakter masing-masing individu, program rehabilitasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan kukang. Misalnya:
Pendekatan seperti ini membantu memastikan bahwa pelepasliaran tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap individu dapat dipersiapkan sesuai dengan karakter dan kemampuannya agar peluang bertahan hidup di alam liar menjadi lebih besar.
Selama ini kukang sering dianggap sebagai primata yang lambat dan pemalu. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Seperti banyak hewan lain, kukang juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda.
Memahami karakter tiap individu dapat membantu peneliti dan praktisi konservasi merancang proses rehabilitasi yang lebih tepat. Dengan begitu, peluang kukang untuk bertahan hidup setelah kembali ke alam liar pun menjadi lebih besar.
Featured image: individu kukang tinggal di kandang habituasi untuk beradaptasi dan diamati perilakunya, sebelum dilepasliarkan ke alam (Rendi Afandi|YIARI)
Are slow lorises bold or shy? Uncovering personality traits with a mirror as a Novel-Object Test. The 6th International Conference on Biosciences (ICoBio). [Buka]
