
Setiap musim hujan tiba, kekhawatiran tentang banjir sering ikut datang. Hujan deras yang turun terus-menerus bisa membuat air meluap dan menggenangi jalan hingga permukiman.
Meski sering dianggap sebagai bencana alam, banjir tidak selalu terjadi karena faktor alam saja. Aktivitas manusia seperti membuang sampah ke sungai atau berkurangnya area resapan air juga bisa memperparah kondisi ini. Lalu, apa saja sebenarnya penyebab banjir dan bagaimana cara mencegahnya?
Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Secara umum, banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga menggenangi daratan yang biasanya tidak tertutup air.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), banjir diartikan sebagai air yang berjumlah banyak dan deras sehingga meluap, terutama dari sungai, lalu menggenangi wilayah yang biasanya kering.
Untuk memahami banjir lebih jauh, beberapa ahli juga memberikan definisi yang menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda. Berikut beberapa pengertian banjir menurut para ahli:

Banjir tidak hanya terjadi dalam satu bentuk saja. Fenomena ini memiliki beberapa jenis yang berbeda, tergantung pada sumber air dan karakteristik alirannya. Setiap jenis banjir juga memiliki tingkat risiko, kecepatan datang, serta dampak yang berbeda, sehingga upaya penanganannya pun perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Secara umum, banjir dapat dibedakan berdasarkan sumber air dan jenis air yang menggenangi wilayah tersebut.
Berikut adalah jenis-jenis banjir:
Menurut Ristya (2012), banjir dibedakan menjadi dua jenis jika didasarkan pada sumber airnya, antara lain:
Banjir lokal terjadi akibat curah hujan yang tinggi di suatu wilayah, sementara sistem drainase yang tersedia tidak mampu menampung aliran air tersebut. Akibatnya, air hujan menggenangi area di sekitarnya.
Karena bersifat setempat, banjir lokal biasanya hanya terjadi di area yang menerima hujan lebat tersebut.
Beberapa faktor yang sering memicu banjir lokal antara lain:
Berbeda dengan banjir lokal, banjir kiriman terjadi ketika volume air sungai meningkat akibat aliran air dari wilayah hulu. Dengan kata lain, wilayah yang terkena banjir belum tentu mengalami hujan deras, tetapi tetap terdampak karena kiriman air dari daerah lain.
Akibatnya, debit sungai meningkat dan air meluap ke area permukiman di bagian hilir.
Beberapa kondisi yang dapat memperparah banjir kiriman antara lain:
Baca juga:
Jika dilihat dari jenis air atau material yang terbawa, banjir juga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berikut.
Banjir air merupakan jenis banjir yang paling umum terjadi, terutama di wilayah perkotaan maupun daerah dataran rendah. Banjir ini biasanya disebabkan oleh luapan sungai, danau, atau saluran air yang tidak mampu menampung volume air hujan.
Ciri utama banjir air adalah genangan yang terbentuk secara bertahap setelah hujan turun terus-menerus dalam waktu lama.
Banjir bandang merupakan jenis banjir yang datangnya sangat cepat dan memiliki daya rusak tinggi.
Karena membawa banyak material berat, banjir bandang dapat merusak rumah, jembatan, hingga infrastruktur lainnya. Jenis banjir ini sering terjadi di wilayah dekat pegunungan atau daerah dengan lereng curam.
Air yang mengalir biasanya bercampur dengan berbagai material seperti:
Banjir rob adalah banjir yang terjadi akibat air laut pasang yang meluap ke daratan. Fenomena ini biasanya terjadi di wilayah pesisir atau daerah yang berada lebih rendah dari permukaan laut.
Akibatnya, air laut menggenangi kawasan permukiman dan infrastruktur di sekitar pantai.
Beberapa faktor yang dapat memicu banjir rob antara lain:
Banjir lahar dingin merupakan banjir yang terjadi di kawasan sekitar gunung berapi.
Material tersebut biasanya terbawa oleh hujan deras yang mengalir menuruni lereng gunung. Karena membawa banyak material padat, banjir lahar dingin memiliki daya rusak yang sangat besar dan dapat merusak permukiman, lahan pertanian, serta infrastruktur di sekitarnya.
Aliran ini terbentuk dari campuran air dengan material vulkanik seperti:

Banyak orang mengira banjir hanya terjadi karena hujan deras. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banjir biasanya terjadi karena kombinasi berbagai faktor, mulai dari kondisi alam hingga aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan lingkungan.
Selain curah hujan yang tinggi, faktor seperti kondisi topografi, daya serap tanah, hingga pengelolaan lingkungan yang kurang baik juga bisa memperbesar risiko terjadinya banjir. Berikut beberapa penyebab utama banjir yang perlu diketahui:
Hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat tanah tidak mampu menyerap seluruh air yang turun. Ketika kapasitas penyerapan tanah sudah penuh, air akan mengalir di permukaan dan berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir.
Curah hujan yang sangat tinggi juga dapat menyebabkan permukaan air di sungai kecil dan anak sungai naik dengan cepat, sehingga meningkatkan risiko banjir di wilayah sekitarnya.
Wilayah dengan topografi dataran rendah lebih rentan mengalami banjir. Kondisi medan yang relatif datar membuat air cenderung berkumpul dan mengalir lebih lambat dibandingkan di daerah yang lebih tinggi.
Selain itu, beberapa faktor lain juga dapat memperparah kondisi ini, seperti:
Tidak semua banjir terjadi karena hujan. Di wilayah pesisir, banjir juga dapat dipicu oleh pasang air laut yang sering disebut sebagai banjir rob.
Saat air laut pasang, permukaan air dapat naik dan meluap ke daratan, terutama di kawasan yang berada dekat pantai atau memiliki ketinggian lebih rendah dari permukaan laut. Fenomena ini sering terjadi di berbagai kota pesisir.
Jenis tanah juga memengaruhi risiko banjir. Tanah berbatu atau tanah yang sangat padat memiliki kemampuan menyerap air yang rendah. Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap dengan baik dan lebih banyak mengalir di permukaan tanah.
Tanah dengan pori-pori yang sedikit membuat air sulit masuk ke dalam tanah, sehingga meningkatkan potensi terjadinya genangan.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), angin topan atau badai dapat memicu banjir karena biasanya disertai dengan hujan lebat, angin kencang, serta gelombang laut yang tinggi.
Kombinasi kondisi tersebut dapat menyebabkan air laut naik ke daratan dan memperparah genangan air di wilayah pesisir.

Kebiasaan membuang sampah ke sungai merupakan salah satu penyebab banjir yang sering terjadi di berbagai daerah. Sampah yang menumpuk dapat menyumbat aliran air sehingga menghambat proses pembuangan air.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, saluran air yang tersumbat tidak mampu menampung volume air. Akibatnya, air meluap ke daratan dan menggenangi kawasan permukiman.
Alih fungsi lahan, terutama deforestasi atau penebangan hutan, dapat meningkatkan risiko banjir. Vegetasi seperti pepohonan berperan penting dalam menyerap air hujan dan menahan aliran air di permukaan tanah.
Ketika hutan ditebang atau diubah menjadi area perkebunan, permukiman, atau kawasan industri, kemampuan tanah untuk menyerap air akan berkurang. Akibatnya, air hujan lebih cepat mengalir di permukaan dan berpotensi menyebabkan banjir di wilayah hilir.
Pembangunan di kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air, seperti hutan, rawa, atau lahan terbuka hijau, juga dapat meningkatkan risiko banjir.
Ketika area tersebut tertutup oleh beton, aspal, atau bangunan, air hujan tidak lagi dapat meresap ke dalam tanah dengan baik. Akibatnya, volume aliran air di permukaan (runoff) meningkat dan berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir.
Sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik juga menjadi salah satu penyebab utama banjir, terutama di wilayah perkotaan. Drainase yang buruk membuat air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar menuju sungai atau saluran pembuangan.
Akibatnya, air hujan menumpuk di permukaan dan memicu genangan. Beberapa faktor yang sering menyebabkan masalah drainase antara lain:
Pendangkalan sungai terjadi ketika sedimen seperti lumpur, pasir, dan material lainnya menumpuk di dasar sungai. Endapan ini membuat kedalaman sungai berkurang sehingga kapasitas sungai untuk menampung air menjadi lebih kecil.
Saat hujan deras terjadi, sungai yang telah dangkal tidak mampu menampung volume air yang besar. Kondisi ini dapat menyebabkan air meluap ke daratan dan menimbulkan banjir di wilayah sekitar sungai.
Baca juga:

Tanggul dan bendungan merupakan infrastruktur yang dibangun untuk mengendalikan aliran air dari sungai, waduk, atau danau. Struktur ini berfungsi menahan air agar tidak meluap ke wilayah permukiman.
Namun, jika tanggul atau bendungan mengalami kerusakan, kebocoran, atau bahkan jebol, air dapat mengalir keluar secara tiba-tiba dan menyebabkan banjir dalam waktu singkat. Peristiwa ini sering menimbulkan dampak yang besar karena volume air yang dilepaskan biasanya sangat banyak.
Aktivitas penambangan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan risiko banjir. Kegiatan ini sering kali mengubah struktur tanah dan menghilangkan vegetasi yang sebelumnya berfungsi menahan air.
Ketika lapisan tanah terbuka dan vegetasi hilang, tanah menjadi lebih mudah mengalami erosi dan kehilangan kemampuan menyerap air. Akibatnya, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan tanah dan dapat meningkatkan potensi banjir maupun longsor, terutama di wilayah perbukitan atau lereng.
Perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor yang dapat memperparah risiko banjir di berbagai wilayah. Kondisi ini memengaruhi pola cuaca global dan meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.
Beberapa dampak perubahan iklim yang berkaitan dengan banjir antara lain:
Selain itu, peningkatan suhu global juga dapat memicu pencairan gletser dan ekspansi termal air laut, sehingga permukaan laut semakin meningkat. Kondisi ini membuat kawasan pesisir menjadi lebih rentan terhadap banjir di masa mendatang.
Banjir tidak hanya menyebabkan genangan air di permukiman, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai dampak yang merugikan bagi masyarakat maupun lingkungan. Berikut beberapa dampak banjir yang sering terjadi:
Banjir merupakan bencana yang dapat terjadi karena berbagai faktor, baik dari kondisi alam maupun aktivitas manusia. Curah hujan yang tinggi, kondisi topografi wilayah, hingga perubahan penggunaan lahan dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir di suatu daerah.
Karena itu, upaya pencegahan banjir tidak hanya bergantung pada faktor alam, tetapi juga pada kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan.
Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, menjaga area resapan air, hingga memperbaiki sistem drainase dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko banjir di masa depan!



