
Dunia reptil dihuni oleh banyak spesies yang sekilas tampak mirip, tetapi sebenarnya memiliki perbedaan besar. Salah satu yang sering bikin bingung adalah labi-labi (reptil bercangkang) yang kerap disangka sebagai kura-kura atau penyu.
Padahal, tiga satwa ini punya perbedaan yang jelas, baik dari bentuk fisiknya, kebiasaan, hingga habitatnya.
Jadi, apa sebenarnya yang membuat labi-labi berbeda? Dan apa saja ciri khas reptil unik ini? Yuk, simak penjelasan lengkap serta fakta-faktanya berikut ini!
Labi-labi adalah reptil air tawar dari famili Trionychidae yang masih satu ordo dengan kura-kura dan penyu, yaitu Testudines.
Meski berkerabat dekat, ketiganya punya perbedaan mencolok dalam tampilan, habitat, dan perilakunya. Misalnya, labi-labi memiliki tubuh yang lebih lentur dan cara bergerak yang jauh lebih lincah dibanding dua “saudaranya” itu.
Reptil ini sering juga disebut kura-kura cangkang lunak, dan di Indonesia lebih dikenal dengan nama bulus. Mereka hidup di air tawar seperti sungai, danau, rawa, dan kolam alami.
Sementara itu, kura-kura memiliki habitat yang lebih beragam, mulai dari perairan tawar hingga padang rumput dan gurun. Berbeda lagi dengan penyu yang mayoritas hidup di laut, meski beberapa spesies bisa memasuki perairan payau atau tawar.
Labi-labi sendiri merupakan omnivora, artinya mereka memakan berbagai jenis makanan, mulai dari tumbuhan hingga satwa kecil. Kura-kura cangkang lunak ini gemar memakan tumbuhan dan buah-buahan. Terkadang, mereka juga melahap ikan, udang, dan cacing.
Secara fisik, labi-labi memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya mudah dibedakan dari kura-kura dan penyu:

Di Indonesia, labi-labi bisa ditemukan di wilayah perairan seperti sungai, danau, rawa, kolam, serta lahan basah lainnya. Beberapa spesies yang dapat ditemui di berbagai pulau, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Lombok, hingga Papua, antara lain:

Labi-labi adalah reptil air tawar bercangkang lunak yang sering bikin orang salah kira sebagai kura-kura. Padahal, satwa ini punya banyak keunikan yang membedakannya dari reptil bercangkang lainnya.
Berikut beberapa fakta menarik yang bikin labi-labi makin seru untuk dipelajari:
Sebagai reptil, labi-labi bernapas melalui paru-paru dan menghirup udara dari permukaan menggunakan hidungnya. Namun, mereka punya kemampuan tambahan: bagian kloaka, mulut, dan tenggorokan dapat menyerap oksigen terlarut di air.
Ini memungkinkan mereka tetap berada di bawah permukaan lebih lama tanpa harus sering muncul ke atas.
Labi-labi gemar berjemur di tempat yang terkena sinar matahari langsung, seperti batang kayu, bebatuan, tepian sungai, atau puing yang mengapung. Menurut Vermont Fish & Wildlife Department, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjemur.
Aktivitas ini penting untuk menaikkan suhu tubuh dan menjaga proses metabolisme tetap optimal.
Baca juga: 11 Fakta Unik Orangutan: Kecerdasan, Habitat, dan Perilaku
Selain berjemur, labi-labi juga suka menghabiskan waktu bersembunyi di dasar berlumpur, terutama di sungai atau kolam berarus tenang. Dengan menenggelamkan diri di lumpur, mereka bisa:
Perilaku ini membuat mereka cukup sulit dilihat meski hidup di perairan dangkal.

Labi-labi, sama seperti kebanyakan kura-kura, tidak memiliki gigi. Lalu bagaimana mereka menghancurkan makanan?
Mereka mengandalkan paruh yang kuat dan tajam. Menurut Turtle Conservation Society of Malaysia, paruh ini berfungsi untuk menggigit, mencabik, dan memecah makanan dengan sangat efektif.
Paruh labi-labi terbuat dari keratin, bahan yang sama seperti kuku dan cakar. Karena mereka omnivora, bentuk paruhnya juga didukung rahang yang kuat sehingga mampu menghancurkan mangsa dengan cangkang keras maupun tumbuhan air yang berserat.
Satu hal yang bikin labi-labi unik adalah kemampuannya bergerak lebih cepat di darat dibandingkan kura-kura pada umumnya. Cangkang mereka yang ringan dan fleksibel membuat tubuhnya tidak “seberat” kura-kura berpunggung keras.
Ditambah lagi, kaki berselaputnya membantu mereka berlari pendek di darat dan meluncur cepat saat kembali ke air.
Sementara itu, kura-kura dikenal lambat karena cangkangnya lebih tebal dan kaku, sehingga pergerakannya terbatas. Perbedaan ini membuat labi-labi jauh lebih lincah di dua habitat: darat dan air.
Labi-labi berkembang biak secara ovipar, yaitu bertelur mirip seperti penyu. Betina biasanya menggali lubang di pasir atau kerikil pada malam hari, lalu meletakkan telur dan menutupnya kembali untuk melindunginya.
Menurut Florida Fish and Wildlife Conservation Commission, seekor labi-labi betina dapat bertelur 4–6 kali dalam satu musim, dan individu berukuran besar bahkan bisa menghasilkan lebih dari 200 butir telur per tahun.
Labi-labi jantan mencapai kematangan seksual ketika panjang tubuhnya sekitar 15 cm, sedangkan betina mulai matang ketika berukuran sekitar 20 cm.
Status konservasi labi-labi berbeda-beda tergantung spesiesnya, tetapi secara umum banyak spesies dalam famili Trionychidae berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Tekanan terbesar datang dari perusakan habitat, penangkapan berlebihan, serta perdagangan ilegal yang marak di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, beberapa spesies labi-labi sudah masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) hingga Terancam Punah (Endangered) menurut IUCN Red List. Beberapa di antaranya, seperti Chitra chitra dan Pelochelys cantorii, menghadapi risiko tinggi akibat hilangnya lahan basah, penangkapan untuk konsumsi, dan perburuan untuk diperdagangkan.
Ancaman utama yang memengaruhi populasi labi-labi meliputi:
Upaya pelestarian untuk labi-labi melibatkan perlindungan habitat lahan basah, peningkatan pengawasan perdagangan satwa, edukasi masyarakat, serta penguatan program konservasi in-situ dan ex-situ.
Labi-labi memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan, sehingga keberadaannya sangat bergantung pada kesehatan lingkungan tempat mereka hidup.
Baca juga: Elang Jawa: Ciri, Habitat, Populasi, dan Upaya Pelestarian
Labi-labi mungkin sering disangka kura-kura atau penyu, tetapi reptil cangkang lunak ini punya banyak keunikan yang membuatnya berbeda dan menarik untuk dipelajari.
Sayangnya, keberadaan labi-labi semakin terancam akibat hilangnya lahan basah, pencemaran sungai, hingga perdagangan ilegal. Dengan mengenal mereka lebih dekat, kita jadi tahu betapa pentingnya menjaga kelestarian sungai, danau, dan rawa yang menjadi rumah bagi spesies ini.
Semoga informasi ini membuatmu semakin peduli dengan keberadaan labi-labi dan satwa air tawar lainnya!
Referensi:



