
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Pulau Sulawesi adalah rumah bagi beberapa primata unik, termasuk yaki, yang hanya dapat ditemukan di wilayah ini.
Dikenal juga dengan nama ilmiah Macaca nigra atau Celebes Crested Macaque dalam bahasa Inggris, yaki memiliki berbagai nama lokal seperti monyet hitam sulawesi, bolai, dan wolai.
Berbeda dengan kera, yaki adalah jenis monyet yang memiliki ekor.
Sayangnya, yaki termasuk primata yang status konservasinya sangat kritis atau terancam punah di alam liar. Mari berkenalan lebih dekat dengan yaki dan pentingnya upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan spesies ini!

Yaki memiliki tubuh berwarna hitam, jambul di kepala, dan pantat merah muda. Pada musim kawin, pantat betina yaki membesar dan berwarna merah terang.
Perlu diingat, yaki adalah monyet dengan ekor pendek sekitar 20 cm, bukan kera. Yaki omnivora, memakan daun, bunga, biji, buah, umbi, serangga, moluska, dan invertebrata kecil. Spesies ini endemik di utara Sulawesi, khususnya di Cagar Alam Tangkoko-Batuangus, hidup di hutan primer dan sekunder dari dataran rendah hingga ketinggian 2.000 meter
Baca juga: Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Yaki memiliki struktur sosial yang terorganisir dengan baik, biasanya hidup dalam kelompok besar yang terdiri dari beberapa laki-laki, perempuan, dan anak-anak mereka. Kelompok ini dapat mencakup 5 hingga 25 individu, tetapi kelompok lebih besar dengan anggota hingga 100 individu juga telah diamati.
Dalam kelompok, yaki menunjukkan hierarki yang jelas dimana dominasi ditentukan melalui kekuatan dan usia, serta interaksi sosial seperti grooming (membersihkan bulu) yang memainkan peran penting dalam pembentukan dan pemeliharaan ikatan sosial.
Interaksi antar anggota kelompok sering melibatkan perilaku bermain, saling menjaga, dan berbagi makanan, yang semuanya vital untuk koherensi sosial mereka.
Yaki juga terkenal dengan perilaku vokalisasi mereka yang rumit, yang digunakan untuk komunikasi dalam kelompok saat mencari makan atau menghadapi ancaman.
Selain itu, mereka mengadakan pertemuan rutin yang tampaknya bertujuan untuk memperkuat hubungan sosial dan hierarki dalam kelompok.
Inilah beberapa ancaman utama terhadap kelangsungan populasi yaki:
Kehilangan habitat merupakan ancaman paling serius yang dihadapi yaki di Sulawesi. Akibat ekspansi lahan pertanian, khususnya untuk perkebunan kelapa sawit dan coklat, serta pembangunan infrastruktur, luas hutan tempat yaki hidup terus berkurang.
Pembukaan lahan ini mengurangi area yang dapat digunakan untuk mencari makan dan berteduh, sekaligus memisahkan populasi yaki menjadi kelompok-kelompok kecil yang terisolasi.
Hal ini mengurangi kesempatan mereka untuk bertemu dan berkembang biak dengan yaki dari kelompok lain, yang secara jangka panjang dapat mengurangi keanekaragaman genetik dan kemampuan adaptasi populasi.
Perburuan menjadi ancaman utama lainnya bagi yaki, terutama untuk dikonsumsi sebagai daging bushmeat. Praktik ini terus berlanjut meskipun adanya hukum yang melarang perburuan yaki, biasanya karena kurangnya penegakan hukum dan kesadaran masyarakat lokal tentang status konservasi yaki.
Akibatnya, banyak yaki yang mati sebelum mencapai usia reproduksi, yang secara dramatis mengurangi kemampuan populasi untuk mempertahankan jumlah mereka, dan meningkatkan risiko kepunahan jangka panjang.
Konflik antara yaki dan manusia terjadi ketika yaki memasuki area pertanian untuk mencari makan, yang sering terjadi karena habitat alami mereka yang menyusut.
Petani, yang merasa terancam oleh kerugian ekonomi akibat rusaknya tanaman, biasanya mengambil tindakan keras, seperti pembunuhan atau pengusiran yaki. Selain membahayakan yaki, tindakan tersebut juga menciptakan siklus negatif antara manusia dan yaki, di mana tidak ada kepercayaan atau toleransi.
Meskipun lebih sedikit dibandingkan dengan perburuan untuk daging, perdagangan yaki sebagai hewan peliharaan masih berlangsung dan berkontribusi terhadap penurunan populasi.
Anak yaki sering diculik dari ibu mereka dan dijual di black market, menyebabkan gangguan pada dinamika sosial kelompok dan meninggalkan anak yaki tanpa perlindungan dan asuhan yang diperlukan untuk bertahan hidup di alam liar.
Populasi yaki yang terisolasi di Sulawesi menghadapi masalah diversitas genetik yang terbatas, membuat mereka rentan terhadap penyakit dan perubahan iklim.
Karena terbatasnya variasi genetik, penyakit baru atau perubahan lingkungan yang drastis bisa menyapu populasi yang tidak memiliki ketahanan genetik terhadap ancaman tersebut. Ini juga membatasi kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan habitat atau sumber makanan seiring waktu, memperburuk risiko kepunahan mereka.
Berikut kontribusi yaki dalam penyebaran biji dan peran ekologis:
Yaki berperan penting dalam proses penyebaran biji di hutan Sulawesi. Ketika mereka mengonsumsi buah, biji-biji tersebut melewati sistem pencernaan mereka lalu dibuang melalui kotoran di lokasi berbeda dari tempat buah tersebut dikonsumsi.
Proses ini menyebarluaskan biji ke area baru yang mungkin tidak terjangkau oleh proses alami lainnya, serta menempatkan biji dalam kondisi yang lebih baik untuk berkecambah, karena biji tersebut sering kali dibuang bersama dengan pupuk alami dalam bentuk kotoran yaki.
Ini membantu dalam regenerasi dan pertumbuhan hutan, serta mendukung keanekaragaman tumbuhan yang lebih besar.
Dengan mengonsumsi dan menyebarkan biji dari berbagai jenis tumbuhan, yaki berkontribusi secara langsung terhadap pemeliharaan keanekaragaman hayati. Aktivitas mereka mendukung keseimbangan ekologis yang memungkinkan berbagai spesies tumbuhan untuk berkembang, yang penting untuk stabilitas dan kesehatan ekosistem hutan.
Keanekaragaman tumbuhan yang lebih tinggi mendukung berbagai jenis fauna, juga menciptakan ekosistem yang kaya dan resilien.
Sebagai omnivora, yaki memiliki peran kunci dalam rantai makanan hutan Sulawesi. Mereka mengonsumsi serangga dan invertebrata kecil, membantu mengontrol populasi serangga dan mempertahankan kesehatan vegetatif ekosistem.
Kegiatan pemangsaan ini menciptakan keseimbangan antara populasi predator dan mangsa, mengurangi risiko satu spesies tertentu akan menjadi dominan, yang bisa merugikan ekosistem secara keseluruhan.
Aktivitas harian yaki sering menarik perhatian atau memicu interaksi dengan spesies lain dalam ekosistem, termasuk predator dan kompetitor.
Misalnya, keberadaan yaki menandakan sumber makanan yang kaya bagi predator seperti elang dan ular. Meskipun interaksi ini kadang-kadang kompetitif atau melibatkan pemangsaan, mereka adalah bagian dari dinamika ekologis yang lebih besar, membantu menjaga keseimbangan alam dan kesehatan ekosistem.
Melalui kebijakan, pemerintah Indonesia memasukkan yaki ke dalam daftar satwa dilindungi, yaitu terdaftar di Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (PERMEN LHK) Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Sementara itu. International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengkategorikan Yaki sebagai primata dengan status kritis di alam (critically endangered).
Lebih lanjut, berikut beberapa upaya konservasi pelestarian yaki:
Elif Ivana Hendastari
Referensi:


