
Pemberian penghargaan tahun ini menandai usia kesepuluh dari GFAS Award. Selain Karmele Llano Sanchez, penghargaan tahun ini juga diberikan kepada Patti Ragan dari Center for Great Apes. Atas penganugerahan ini, Jackie Bennett, Direktur Program GFAS untuk Afrika dan Asia menyatakan: “Mengenal Karmele selama beberapa tahun dan menyaksikan sendiri kinerja dan dedikasinya yang mengagumkan, saya tidak memikirkan pihak lain yang lebih pantas dari Karmele.”
Seperti yang telah disampaikan Karmele Llano Sanchez, penghargaan ini merupakan kerja keras semua tim, di mana mayoritas pekerja yang ada di IAR Indonesia adalah masyarakat setempat. Baik di Ketapang, Kalimantan Barat dan di Ciapus, Bogor, Jawa Barat, IAR Indonesia selalu melibatkan masyarakat setempat tidak hanya sebagai tenaga kerja, namun juga sebagai mitra yang setara dalam program-program lingkungan hidup yang diinisiasi.
Selain bermitra dengan warga setempat, IAR Indonesia telah menjalin kerjasama resmi dengan sejumlah instansi pemerintah baik di tingkat kabupaten, provinsi, dan pusat. Di antaranya dengan Pemerintah Kabupaten Ketapang, Balai TNBBBR, Balai TNGP, Universitas Tanjungpura, BKSDA Kalbar, Kejaksaan Negeri Ketapang, Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Ketapang, Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Sungai Besar, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup, dan Dinas Pendidikan.
Sejumlah kegiatan-kegiatan yang selama ini telah berhasil dikembangkan IAR Indonesia di antaranya adalah konservasi dalam agama dan suku yang melibatkan masyarakat dan pemuka agama di beberapa kecamatan, peningkatan kapasitas guru dalam integrasi materi lingkungan hidup serta pembangunan program ekstrakurikuler afterschool di tiga sekolah SMP dan pemberdayaan pemuda lokal. IAR indonesia juga memfasilitasi pembentukan komunitas lingkungan hidup pertama di Ketapang yang diberi nama Pongo Ranger.
Tidak hanya berkontribusi dalam penyadartahuan lingkungan dan konservasi, anggota Pongo Ranger juga berhasil meningkatkan kapasitasnya hingga beberapa anggota sukses mendapatkan beberapa kesempatan sebagai penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) untuk melanjutkan pendidikan jenjang strata-1 hingga menjadi delegasi Indonesia dalam pertukaran budaya pelajar ke Amerika Serikat.
Selain itu, IAR Indonesia juga mempunyai program pendampingan dan pengembangan masyrakat lokal di beberapa desa di Ketapang, Ciamis, Melawi, dan Lampung. Total ada 12 desa yang menjadi binaan IAR Indonesia. Di antaranya Desa Pematang Gadung, Sungai Besar dan Ulak Medang di Kabupaten Ketapang, Desa Nasol dan Tanjung Sari di Ciamis, Desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai di Kabupaten Melawi, Desa Datar Lebuay, Air Naningan, Lingga Pura dan Sumber Bandung di kawasan Batutegi, Lampung.
Dalam program ini, IAR berusaha mengembangkan kemampuan masyarakat lokal dengan memberikan beberapa pelatihan seperti pertanian organik, pengembangan ekowisata, pemetaan partisipatif, survei biodiversitas, pertanian organik hingga pembuatan instalasi biogas.
Hingga saat ini, IAR Indonesia didukung oleh 189 karyawan lokal dari total karyawan yang berjumlah 228 baik di Ketapang dan Ciapus, maupun di situs pelepasliaran orangutan di Kabupaten Melawi. Dari 132 orang yang berkerja di pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang, 114 orang di antaranya adalah warga asli Kabupaten Ketapang. Selain itu untuk menyuplai pakan bagi orangutan, IAR Indonesia melakukan pembelian buah dan sayur pada sekitar 15 warga lokal hingga mencapai pengeluaran Rp30 juta per bulan dan jika digabungkan dengan pembelian di pasar lokal, mencapai Rp70-an juta per bulan.
Dengan keberadaan dukungan masyarakat setempat dan mitra-mitra lokal di daerah-daerah tempat di mana IAR Indonesia beraktivitas, yayasan ini berhasil menjadi institusi yang tidak hanya melestarikan lingkungan hidup, namun juga memberikan kontribusi sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
